Hati-Hati, Virus Ternyata Lebih Berbahaya di Pagi Hari

Peneliti di University of Cambridge, Inggris mengungkap fakta bahwa tubuh manusia lebih rentan terserang virus di pagi hari.

oleh Tassa Marita Fitradayanti diperbarui 02 Sep 2016, 19:22 WIB
Terkena flu memang sangat tidak menyenangkan, namun hal itu seperti tidak terhindarkan.

Liputan6.com, Jakarta Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti di University of Cambridge mengungkapkan sebuah fakta bahwa virus jauh lebih berbahaya ketika menyerang tubuh targetnya di pagi hari.

Para peneliti menyimpulkan, virus sepuluh kali lebih efektif membuat korbannya terinfeksi saat pagi hari lantaran sel-sel tubuh sangat aktif namun kondisi fisik masih lemah dengan tidak adanya aktivitas.

Terlebih, Kondisi-kondisi tertentu seperti jet lag, tubuh terlampau lelah karena shift kerja malam memungkinkan untuk virus untuk masuk dengan sangat mudahnya.

Dalam studi tersebut, tikus dijadikan bahan dalam penelitian. Tikus tersebut terinfeksi virus influenza yang menyebabkan kerap menyebabkan flu juga pada manusia.

Karena hewan tersebut terinfeksi di pagi hari, infeksinya terbukti sepuluh kali lebih kuat jika dibandingkan dengan tikus yang terinfeksi di malam hari.

“Ini perbedaan yang besar. Virus membutuhkan semua sel-sel aktif yang tersedia di jam yang tepat, jika tidak mendapatkannya maka infeksinya tidak berhasil. Namun jika terkena sedikit saja infeksi virus pada pagi hari, maka ia akan menginfeksi tubuh lebih cepat dan mengambil alih tubuh,” ujar salah satu peneliti, Prof. Akhilesh Reddy.

Penelitian menggunakan dua virus dalam studi, yaitu virus DNA dan Virus RNA. Mereka menemukan bahwa sepuluh persen gen yang menginstruksikan tubuh sepanjang hari, dikendalikan oleh jaringan internal tubuh yang disebut dengan BMAL1.

BMAL 1 adalah gen yang memiliki aktivitas paling tinggi di waktu sore hari, baik dalam tubuh manusia maupun hewan seperti tikus, dilansir bbc, Jumat (2/9/2016).

“Ini menunjukkan bahwa aktivitas BMAL1 yang rendah di pagi hari, menyebabkan orang-orang lebih rentan terhadap infeksi virus,” ujar penulis studi, Dr. Rachel Edgar.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya