Tips Kenali Diri dan Personal Branding Bersama Dya Loretta

Dya Loretta, penulis buku It's Me berkunjung ke Liputan6.com dan berbagai cerita pentingnya personal branding.

oleh Mulyono Sri Hutomo diperbarui 02 Sep 2016, 09:30 WIB
Live Chat Streaming It's ME! Superbrand Diri Untuk Jadi Beda bersama Dya Loretta

Liputan6.com, Jakarta Dalam diri setiap orang, pasti memiliki tingkat kepercayaan diri yang berbeda-beda. Banyak yang sudah mengetahui tentang dirinya, namun ada juga yang belum mengenali bagaimana dirinya.

Mungkin beberapa pertanyaan pernah terlintas di pikiran seperti, seberapa kenal dengan diri pribadi? Atau sering mendengar istilah personal branding, namun apa sih sebenarnya apa yang dimaksud dengan personal branding?

“Punya kemampuan diri saja tidak cukup, tapi harus disertai pemahaman soal apa yang ingin dicapai dalam hidup, prioritas serta personal brand diri sendiri sebagai senjata menghadapi tantangan dan dinamika sosial serta pekerjaan. Untuk itu jelas butuh arahan dan motivasi positif,”kata Dya Loretta kepada Liputan6.com.

Kutipan keren yang kekininan tersebut diyakini oleh Dya Loretta, perempuan yang mengisi rubrik di beberapa media dengan tulisan tentang motivasi, pembicara di berbagai kegiatan seminar, sekaligus dosen pengajar ilmu komunikasi di sejumlah universitas. Dya Loretta juga hadir dalam diskusi tentang pentingnya personal brand untuk menjadi diri yang berbeda, bernilai dan bermanfaat.

Dalam acara Chit-chat Streaming, Dya Loretta hadir ke studio Liputan6.com, SCTV Tower, Senayan, Jakarta Selatan. Perbincangan seru dipadu berbagai pertanyaan soal personal branding yang kritis dari para member di forum.liputan6.com, dijawabnya dengan serius tapi santai.

Menurut Dya Loretta, apa yang dimaksud dengan personal image?

Personal image itu disadari secara tidak langsung, melalui pandangan orang lain citra ini bisa di lihat. Tetapi, belum tentu orang lain bisa menangkap apa citra yang kita buat. Jadi personal image itu bisa dilihat, dengan keselarasan antara citra apa yang kita buat bisa sampai ke orang lain.

Bagaimana cara untuk menghadapi bully-an dari teman atau lingkungan sekitar? Dan bagaimana cara agar berani berbicara di depan orang banyak?

Saya sudah gendut dari dulu, berat saya dulu sampai 140 kg. Di fase pada saat gendut saya juga berfikiran sama, saya merasa sebal. Saya hanya bisa memikirkan bagaimana cara mereka jangan melihat saya dari gemuknya saja, jangan lihat dari tubuh atau mata saja, dia sukanya ini, ternyata sukanya ini. Tapi cobalah melihat dari inner, itu bisa menjadi akses kualitas supaya orang tidak hanya melihat dari sisi gendut saja.

Cara bagaimana agar berani di depan orang banyak, bisa dilakukan kalau kita sudah tahu diri kita. Melihat diri kita bahwa setiap orang punya konten dan memiliki sesuatu yang dikuasai untuk menambah energi. Dengan adanya pikiran bahwa kita itu punya kemampuan, kita bisa menjadikan diri kita percaya diri dan bisa menomorduakan fisik, sehingga kita lupa dengan ketakutan itu.

Apakah dengan tampil beda, bisa menjadikan kita sukses? Adakah buku yang bisa jadi bahan rekomendasi tentang self confidence dan personal branding?

Sebenarnya seperti ini, siapapun ingin terlihat sukses dan mengharapkan sesuatu yang baik. Namun dengan memiliki penampilan yang berbeda artinya kita punya identitas, sehingga orang lain akan mudah tertuju dengan kita dan lebih mudah dicapai oleh diri kita kalau kita tahu kekuatan diri seperti penampilan kita, artinya kita sudah percaya diri dan mampu.

Kalau buku tentang softskill, yang fokus kepada personal branding, saya merekomendasikan berbagai buku yang berkaitan dengan self improvement. Di buku saya 'It’s Me', juga banyak membahas tentang self improvement, dan juga beberapa buku dari teman-teman saya.

Saat ini sudah masuk ke era media sosial, lalu seberapa penting kita membangun personal branding di media sosial?

Ketika kita tahu personal identity menginspirasi seseorang, misal di sosial media Facebook, ataupun Instagram. Kita bisa membuat video, gambar, ataupun ikon yang menarik bagi orang lain. Lalu kita bagikan di media sosial. Misalnya, suka posting foto natural, pemandangan dan alam, artinya orang tersebut suka traveling.

Jadi media sosial itu bisa jadi cermin kita. Semua bisa mengontrol orang akan kita posting dan apa yang kita pikirkan. Untuk meminta komentar, meminta masukkan, dan bisa lebih luas lagi.

Di akhir perbincangan, Dya Loretta menyampaikan pesannya. "Personal branding itu bukan hanya dalamnya saja, outlook-nya, dan atribut yang kita pakai, karena itu hanya bisa mendukung saja. Tetapi yang terpenting adalah citra yang kita buat dari dalam diri kita, yaitu personal image yang kita ciptakan akan mempengaruhi personal branding kita," pungkasnya.

Simak perbincangan dengan Dya Loretta di Forum Liputan6 dengan mengeklik tautan berikut ini.

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini.

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6.

Penulis : Estrin Vanadianti Lestari (Universitas Pancasila), Siti Nuraini Safitri (Universitas Pancasila).

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya