Mobil Sapu Angin ITS Didiskualifikasi di London

Mobil Sapu Angin ITS sempat terbakar saat pengiriman via kargo pada Selasa 28 Juni 2016.

oleh Dian Kurniawan diperbarui 04 Jul 2016, 11:19 WIB
Mobil Sapu Angin ITS (Dian Kurniawan/Liputan6.com)

Liputan6.com, Surabaya - Mobil Sapu Angin XI (SA-XI) ciptaan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) batal melaju di lintasan Queen Elizabeth Olympic Park, London, Inggris, pada 3 Juli 2016.

Mobil itu urung unjuk gigi dalam ajang EcoShell Marathon Challenge Divers World Championship (DWC) lantaran didiskualifikasi.

Dosen pembimbing tim SA-XI Witantyo yang ikut mendampingi tujuh mahasiswa di arena Queen Elizabeth Olympic Park itu menuturkan alasan panitia mendiskualifikasi mobil tersebut.

"Anehnya sehari sebelumnya, Mobil Sapu Angin XI dinyatakan lolos dalam pemeriksaan teknis dan mendapatkan kesempatan untuk layak jalan," tutur Witantyo dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com di Surabaya, Jatim, Senin (4/7/2016).

Mobil Sapu Angin ITS (Dian Kurniawan/Liputan6.com)


Witantyo mengatakan, dalam kesempatan uji coba lintasan, mobil itu berhasil melakukan dua putaran. Uji coba lintasan ini dilakukan agar bisa lolos dalam kualifikasi.

Dalam dua putaran itu masing-masing berhasil mencatatkan angka 176 km per liter dan 183 km per liter dalam konsumsi bahan bakar.

"Kami telah melaporkan kenyataan ini ke Pak Rektor dan Rektor telah mengirim surat untuk meminta penjelasan detail terhadap kasus yang menimpa tim ITS," kata Witantyo.

Yang Terbaik

Menjawab surat itu, Rektor ITS Joni Hermana menilai hal ini tak adil. Dia pun meminta penjelasan terkait didiskualifikasikannya tim Mobil Sapu Angin.

"Mobil kami memang terkena musibah terbakar saat pengiriman menggunakan kargoa. D dengan semangat yang tinggi mahasiswa telah berhasil mewujudkannya kembali dalam segala keterbatasan, sekaligus telah mengalami uji lintasan sebanyak dua kali," kata Joni dalam suratnya.

"Jika kemudian hasil akhirnya tetap tidak bisa ikut race, mohon disampaikan dan diinformasikan dengan baik kepada kami alasan-alasan terhadap keputusan itu."

Namun, bagi Joni Hermana, tim dari kampus asal Surabaya, Jawa Timur, itu sudah berupaya maksimal.

"Apa pun hasilnya tim Sapu Angin sudah menunjukkan yang terbaik. Mampu dalam waktu singkat dan bekerja dalam tekanan yang luar biasa, mewujudkan kembali Mobil Sapu Angin dari sisa-sisa material mobil yang terbakar. Kami tetap mengapresiasi dan Sapu Angin sudah menjadi juara," ujar Joni.

Mobil serta tim ITS yang pernah menyabet Juara 1 dalam EcoShell Marathon Challenge Asia 2016 di Filipina pada Maret lalu itu terbakar saat pengiriman via kargo pada Selasa 28 Juni 2016. Mobil itu pun sempat dirakit kembali lantaran panitia lomba memberikan kesempatan tim ITS untuk bisa berlaga.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya