BP Bangun Kilang Tangguh Train 3 Senilai US$ 8 Miliar

Pemerintah telah memutuskan nilai investasi akhir untuk proyek pembangunan fasilitas pengolahan gas alam cair (kilang) Tangguh Train 3.

oleh Pebrianto Eko Wicaksono diperbarui 01 Jul 2016, 19:20 WIB
Pemerintah telah memutuskan nilai investasi akhir untuk proyek pembangunan fasilitas pengolahan gas alam cair (kilang) Tangguh Train 3.

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah telah memutuskan nilai investasi akhir atau Final investment decision (FID) untuk proyek pembangunan fasilitas pengolahan gas alam cair (kilang) Tangguh Train 3. Dengan adanya keputusan tersebut maka proyek hulu minyak dan gas bumi (migas) tersebut berlanjut.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengatakan, proyek ini diproyeksikan akan menambah pasokan gas sebesar 3,8 million tons per annum (mtpa) terhadap kapasitas produksi Kilang Tangguh. Dengan adanya tambahan tersebut maka total kapasitas Kilang Tangguh menjadi 11,4 mtpa.

Proyek yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh BP Tangguh Berau Ltd itu tersebut membutuhkan nilai investasi US$ 8 miliar. “Ini sebuah milestone bagi industri hulu migas Indonesia. Terlebih ini sejalan dengan visi untuk membangun Indonesia dari Timur yang terdapat dalam Nawacita,” kata Sudirman, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (1/7/2016).

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Amien Sunaryadi melanjutkan, proyek Kilang Tangguh mencakup tiga blok wilayah kerja, yakni Berau, Muturi dan Wiriagar. Pada kilang Train 3 menambah 2 anjungan lepas pantai, 13 sumur produksi baru, dermaga LNG baru, dan infrastruktur pendukung lainnya.

Menurut Amien, Kilang LNG Tangguh Train 3 sangat besat perannya bagi Program 35 ribu MW. Sebesar 75 persen dari produksi tahunan LNG dijual ke PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Itu setara dengan 3 ribu MW listrik bagi Indonesia. “Proyek ini juga untuk memenuhi kebutuhan gas bagi kelistrikan di Provinsi Papua Barat hingga 20 mmscfd,” ungkap Amien.

Pekerjaan pengembangan Sumur Tangguh tersebut, akan menggunakan kandungan lokal sebesar 35 persen senilai US$ 1,3 miliar, antara lain dari sektor pekerjaan sipil, mesin, elektro, hingga kelautan.

SKK Migas telah menyetujui seluruh Authorization For Expenditure (AFE) serta penunjukan pemenang pengadaan barang dan jasa untuk proyek ini. Selanjutnya, engineering, procurement and construction (EPC) bisa dilakukan pada kuartal III tahun ini, yang dilanjutkan dengan masa konstruksi. “Operasi diharapkan dapat dimulai pada 2020,” tutup Amien.

Keputuan FID itu ditandai dengan penyerahan empat dokumen FID. Dokumen yang disampaikan oleh Amien Sunaryadi kepada BP Regional President Asia Pacific Christina Verchere yaitu:

a. persetujuan nilai autorization for expenditure (AFE) untuk Pembangunan Kilang LNG Train 3, baik untuk fasilitas darat dan lepas pantai.

b. persetujuan penunjukan pelaksana proyek (EPC Award) untuk pembangunan Kilang LNG dan fasilitas gas lepas pantai (platform dan pipa penyalur).

c. persetujuan pasokan gas untuk pabrik pupuk di Papua.

d. persetujuan pembiayaan kilang LNG.

Proyek Kilang LNG Tangguh Train 3 dioperasikan oleh BP Berau Ltd sebagai kontraktor mitra utama SKK Migas yang memegang saham mayoritas, yakni 37,16 persen.

Terdapat enam kontraktor mitra Tangguh lainnya yang digandeng BP, yakni:

- MI Berau BV (16,30 persen)
- CNOOC Muturi Ltd (13,90 persen)
- Nippon Oil Exploration (Berau) Ltd (12,23 persen)
- KG Berau/KG Wiriagar (10 persen)
- Indonesia Natural Gas Resources Muturi Inc (7,35 persen)
- Talisman Wiriagar Overseas Ltd (3,06 persen‎).

 

**Ingin mendapatkan informasi terbaru tentang Ramadan, bisa dibaca di sini.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya