Jo Cox Tewas Dibunuh, Pemilih Brexit Kehilangan Suara 3 Persen

Perhitungan terakhir mencapai 46 persen untuk Remain (Inggris bersama Uni Eropa) yang mendapat keuntungan dari insiden tewasnya Cox.

oleh Arie Mega Prastiwi diperbarui 19 Jun 2016, 13:52 WIB
Menteri Keuangan Jerman menegaskan bahwa apabila Inggris memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa, maka hal tersebut berdampak pada ekonominya

Liputan6.com, London - Sebuah survei terbaru memperlihatkan suara pro Brexit (Inggris keluar dari Uni Eropa) hingga 3 persen setelah tewasnya aktivitis Remain (untuk tetap bersama Uni Eropa) sekaligus anggota Parlemen Inggris, Jo Cox.

Pemegang suara mengambang pun dipastikan masih belum memberikan pilihannya apakah tetap tinggal, atau hengkang (Leave) menjelang referendum 23 Juni mendatang.

Dilansir dari Daily Mail, Minggu (19/06/2016) pooling tersebut diadakan oleh Survation, lembaga independen yang memantau Brexit.

Namun, survei lain memperlihatkan suara kedua pemilih sama besarnya.

Kampanye Brexit berakhir pada Minggu ini, setelah ditunda 2 hari sehabis penyerangan yang berujung pada tewasnya Jo Cox. Perempuan 41 tahun dari Partai Buruh itu adalah salah satu pendukung kuat agar Inggris masih tetap dalam Uni Eropa.

Sementara itu, pembunuh Cok, Thomas Mair, dalam sidang pembacaan dakwaan, bersikukuh menjawab namanya adalah 'death to traitors, freedom for Britain'.

Survation survei memperlihatkan para pendukung Remain mencapai 45 persen, sementara pendukung Leave 42 persen.

Perhitungan terakhir mencapai 46 persen untuk Remain yang mendapat keuntungan dari insiden tewasnya Cox.

Sebelumnya, perhitungan suara bagi yang ingin hengkang mencapai 45 persen, sementara yang tetap hanya 42 persen.

Sementara itu, lembaga ComRess Poll yang membuat survei untuk Sunday People dan The Independent sebelum insiden pembunuhan Jo Cox, suara cenderung untuk meninggalkan Inggris.

Namun, angka itu berubah setelah penyerangan sadis terjadi.

Ketua ComRess, Andrew Hawkins mengatakan penyerangan brutal kepada Jo cox mungkin memiliki pengaruh.

"Tak semua responden segera merespons serangan itu. Namun, reaksi emosi yang ditunjukkan oleh para pemilih Leave memberi aura negatif. Maka dari itu, suara Remain pun naik," kata Hawkins.

Seluruh survei diadakan setelah insiden, namun harian Sunday Times mengatakan perubahan angka itu tak melulu karena faktor penyerangan.

Perubahan angka dukungan lebih kepada ketakutan akan dampak ekonomi di antara para pemilih kalau Inggris meninggalkan Uni Eropa.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya