'Hobbit' Flores Sejatinya Manusia yang Mengerdil dengan Cepat?

Fosil manusia kerdil baru dinilai dapat menguatkan hipotesis bahwa manusia kerdil di Flores benar-benar ada.

oleh Citra Dewi diperbarui 09 Jun 2016, 14:43 WIB
Ilustrasi 'Hobbit' asal Flores (Kinez Riza)

Liputan6.com, Flores - Para ilmuwan berpendapat bahwa manusia kerdil pernah berkeliaran di Pulau Flores selama lebih dari setengah juta tahun.

Pada 2004, fosil manusia kerdil ditemukan di dasar Gua Liang Bua, Flores. Fosil Homo floresiensis berusia 50 ribu tahun tersebut hanya memiliki tinggi 1 meter dengan ukuran otak sepertiga dan dijuluki 'hobbits'.

Dikutip dari The Guardian, Kamis (9/6/2016), beberapa ilmuwan berspekulasi bahwa manusia tersebut bukan merupakan spesies baru. Menurutnya, 'hobbits' hanyalah manusia modern yang pertumbuhannya terhambat karena sebuah penyakit.

Namun, fosil baru yang ditemukan di Mata Menge, basin besar yang terletak 50 kilometer dari Liang Bua, dapat mengesampingkan teori manusia modern. Individu kerdil tersebut hidup dan membuat alat-alat batu setengah juta tahun sebelum manusia modern ada.

Fosil-fosil baru yang ditemukan tidak terlalu banyak. Sebuah rahang bawah dan enam gigi, dimiliki setidaknya satu orang dewasa dan dua anak-anak.

"Ini memastikan hipotesis tersebut," ujar ketua tim peneliti, Gert van den Bergh dari University of Wollongong in Australia.

"Sekitar 700 ribu tahun lalu belum ada Homo sapiens," tambahnya.

Asal Usul dan Evolusi Manusia Kerdil

Hasil penemuan dan penelitian fosil tersebut dijelaskan dalam dua artikel dalam jurnal Nature. Para peneliti meyakini bahwa pendahulu manusia modern, yakni Homo erectus, terdampar di Flores dari pulau tetangga yang mungkin disebabkan karena tsunami hebat.

Karena di Flores hanya terdapat makanan yang terbatas, lambat-laun tubuh mereka mengecil. Lebih dari 300 ribu tahun, pendatang tersebut dengan cepat kehilangan pertumbuhan normalnya.

"Pulau kecil dan memiliki sumber daya terbatas itu memiliki beberapa predator selain komodo, sehingga mamalia berbadan besar berada di bawah tekanan untuk mengurangi massa tubuhnya," ujar peneliti lain Adam Brumm dari Griffith University di Queensland.

Tulang rahang yang ditemukan 20 persen lebih kecil dari yang ditemukan di Liang Bua (Kinez Riza)

"Memiliki tubuh besar tak menjadi keuntungan ketika Anda mencoba bertahan hidup dalam lingkungan yang terisolasi dan menantang seperti itu," ia menambahkan.

Tim dari Australia, Indonesia, dan Jepang bekerja sama dengan 140 penduduk setempat untuk mengekskavasi fosil. Tulang rahang dari fosil tersebut 20 persen lebih kecil dari fosil 'hobbit' yang ditemukan di Liang Bua.

Alat-alat dari batu sederhana juga ditemukan di lokasi. Alat yang ditemukan di Mata Menge mirip dengan yang ditemukan di gua Liang Bua, tapi lebih sederhana dan kecil daripada yang ditemukan di sebuah situs bernama Wolo Sege.

Memastikan Hipotesa

Masih lebih banyak fosil perlu ditemukan untuk memastikan hal tersebut. Para peneliti ingin menemukan tulang panjang di Mata Menge yang membuktikan bahwa lokasi tersebut memang pernah di tempati manusia kerdil.

Di lokasi lain di pulau tersebut, penelitian masih terus dilanjutkan untuk mengetahui kedatangan manusia pertama di Flores yang sulit dipahami. Mereka menduga mungkin saja ditemukan Homo erectus berukuran normal atau mungkin nenek moyang dengan ukuran lebih kecil.

8 buah gigi yang ditemukan merupakan milik setidaknya satu orang dewasa dan dua anak-anak (Kinez Riza)

Seorang ahli antropologi evolusi di Florida State University, Dean Falk, mengatakan bahwa fosil baru akan membantu meyakinkan semua orang yang meragukan bahwa Homo floresiensis merupakan spesies yang sah.

Falk mengatakan, fosil berusia 700 ribu tahun dan memiliki ukuran yang sama dengan fosil di Liang Bua sangat menarik perhatiannya.

"Meskipun menurut pendapatku kita tak bisa mengesampingkan kemungkinan bahwa Homo erectus dan Homo floresiensis memiliki nenek moyang sama, yakni hominini bertubuh dan berotak kecil," ujarnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya