Geliat Penjemput Rezeki Halal di Bandung

Semangat komunitas Penjemput Rezeki Halal adalah berbisnis bukan berarti mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari konsumen.

oleh Arie Nugraha diperbarui 08 Jun 2016, 18:51 WIB
Semangat komunitas Penjemput Rezeki Halal adalah berbisnis bukan berarti mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari konsumen.

Liputan6.com, Bandung - Berbisnis bukan berarti mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari konsumen, seperti yang diajarkan agama Islam.

Namun sebagian orang menganggap tak ada sangkut paut antara bisnis dengan ajaran agama. Alasan inilah yang melatari lahirnya Komunitas Penjemput Rezeki Halal (KPRH) yang terbentuk pada September 2015 lalu.

"Namanya mendadak dibuat. Awalnya, untuk mengenalkan bahwa pebisnis itu harus mengenal agama dulu," ujar pendiri KPRH Imam Subarjo kepada Liputan6.com di Bandung, Jabar, Rabu (8/6/2016).

"Ingin membawa nilai-nilai keagamaan niatnya. Niat lainnya adalah membangun jaringan wirausahawan, baik yang telah sukses maupun tidak agar saling terkoneksi," kata dia.

Imam mengatakan mulanya komunitas ini berjalan dengan mengusung koneksi bisnis syariah. Tentunya, dengan menghadirkan para pemuka agama dan ustad untuk memahami aturan perdagangan sesuai ajaran agama Islam.

Menurut dia, banyak sekali pro-kontra terkait menjalankan perdagangan sesuai ketentuan agama. Untuk menghindari adanya pro-kontra tentang menjalankan perdagangan dengan sistem agama, yang selalu dianggap ringkih dan kurang fleksibel, maka dimulailah para calon dan pelaku bisnis diberikan pengenalan ajaran agama secara menyeluruh.

Anggapannya, jika pengenalan ajaran agama secara menyeluruh telah dipahami oleh anggota KPRH, maka barulah diberikan materi fiqih bisnis berdasarkan keilmuan yang diperoleh dari beberapa ustad.

"Aspek spiritual dulu yang dikenalkan. Nilai-nilai keagamaan yang dihadirkan. Belum sampai kepada hukum haram dan halal. Setidaknya kita dapat mengedukasi secara agama," tambah Imam.

Uniknya, pemateri yang memberikan keilmuan perdagangan secara agama ini, tidak sepenuhnya ustad. Mereka yang dimintai ilmunya oleh KPRH ini, sebenarnya adalah praktisi dari berbagai profesi yang menguasai aturan perdagangan sesuai ajaran agama.

Intinya dengan memperoleh keilmuan dari para ustad ini, dapat menyeimbangkan ilmu ekonomi modern yang kapitalis dengan capaian keuntungan sebesar-besarnya, dilihat dari sudut pandang ajaran agama Islam.

"Kita butuh penghasilan tanpa meninggalkan sisi agama. Nantinya, tahapan setahun kedepan jika secara ekonomi stabil, maka akan dikenalkan syariah yang lebih dalam," jelas Imam.

Rencananya, kelompok ini akan membangun pusat kegiatan bisnis dan agama untuk menampung produk-produk UKM yang mumpuni. Selain itu, mendirikan pusat edukasi klien, check up kesehatan UKM, serta pusat kajian workshop membuat kemasan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya