Jari Siswa SD Bengkak Setelah Pemeriksaan Kuku oleh Megawati

Setiap Sabtu, pemeriksaan kuku oleh Megawati berlangsung di sekolah anak tersebut.

oleh Ahmad Yusran diperbarui 13 Apr 2016, 11:32 WIB
Setiap Sabtu, pemeriksaan kuku oleh Megawati berlangsung di sekolah anak tersebut. (Liputan6.com/Ahmad Yusran)

Liputan6.com, Makassar - Ramadhan (7), siswa kelas 1 SD Rama Sejahtera, Kecamatan Panakukang, Makassar, terpaksa tak masuk sekolah sejak Senin, 11 April 2016. Jemari tangan kirinya masih bengkak dan membiru setelah tak lolos pemeriksaan kuku di sekolah.

Jemari anak bungsu Daeng Sawala itu terluka akibat pukulan sapu ijuk Megawati, wali kelas Ramadhan. Kejadian nahas itu berlangsung di dalam kelas pada Sabtu, 9 April 2016.

"Saya belum izinkan ke sekolah karena tangan anak saya masih bengkak. Dia mau dibawa berobat ke rumah sakit karena ruas tulang jari kirinya sudah tidak seperti biasanya," ucap Daeng Sawala kepada Liputan6.com, Selasa, 12 April 2016.

Atas perlakuan yang diterima anaknya, Daeng Sawala berencana mempolisikan Megawati. Namun, ia berubah pikiran setelah bertemu dengan Wakil Kepala SD Rama Sejahtera, Asma dan wali kelas anaknya, Megawati. Dalam pertemuan yang berlangsung selama 30 menit itu disimpulkan bahwa sekolah akan bertanggung jawab atas kesembuhan Ramadhan.

"Biar kami yang urus dan bawa ke dokter spesialis. Jangan ke dokter umum," kata Asma kepada Liputan6.com.

Meski demikian, ia mengaku tak yakin jika staf pengajarnya memukul Ramadhan dengan sapu. Maka itu, ia belum memberikan sanksi apa pun kepada Megawati.

Ditemui terpisah, Megawati yang dikonfirmasi mengatakan tidak pernah memukul siswanya dengan sapu, melainkan hanya dengan tangan. Ia juga mengakui bahwa setiap Sabtu selalu dilaksanakan pemeriksaan kuku.

"Saya tidak pakai sapu tapi tangan, itu juga saya lupa-lupa ingat. Tapi memang setiap Sabtu ada pemeriksaan kuku," ucap Megawati.

Sementara itu, Ketua Komisi D Bidang Pendidikan dan Kesra DPRD Makaassar Mudzakkir Ali Djamil menegaskan kekerasan pada anak sekolah tidak pantas. Apalagi kekerasan itu terjadi hanya gara-gara kuku murid yang panjang.

"Kalau tulang jari anak itu patah, sama saja cacat fisik sudah ia derita sejak usia dini di bangku sekolah. Padahal, mereka itu di sekolahkan untuk menimba ilmu bukan hukuman yang berlebihan," ucap Mudzakkir.

Senada dengan Mudzakkir, Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto meminta agar orangtua Ramadhan melaporkan kejadian itu ke polisi. Laporan itu sekaligus menjadi pelajaran kepada guru untuk tidak berlebihan menghukum siswa.

"Saya hanya bisa prihatin kalau sudah seperti ini. Tapi biar jadi pelajaran, suruh orangtua murid itu lapor ke kantor polisi," kata Danny, panggilan akrab Pomanto, Rabu (13/4/2016).

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya