Kota dengan Transportasi Paling Tidak Aman untuk Perempuan

Para perempuan di kota-kota besar ini merasa tidak aman dengan sistem transportasi yang ada.

oleh Rina Nurjanah diperbarui 30 Mar 2016, 18:27 WIB
Penumpang berjubel saat KRL commuter line Jakarta Kota-Bogor melintas di Stasiun Pasar Minggu, Jakarta, Selasa (24/11). Pohon tumbang di perlintasan KRL antara Citayam dan Bojonggede, membuat perjalanan kereta terganggu. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Citizen6, Jakarta Kota besar menjadi pilihan bagi banyak orang untuk tinggal dan menetap. Kota besar menjanjikan lapangan pekerjaan yang lebih luas, akses perekonomian yang lebih mudah, dan hal lainnya yang menggoda terjadinya urbanisasi. Namun semakin besar dan padat sebuah kota, semakin banyak juga persoalan yang dihadapi kota-kota besar di dunia. 

Salah satunya adalah transportasi, mulai dari kemacetan lalu lintas, kecelakaan, hingga faktor keamanan. Transportasi publik menjadi salah satu layanan publik yang patut memperoleh perhatian besar bagi kota dengan mobilitas tinggi. Salah satunya adalah keamanan, terlebih bagi perempuan. 

Thomson Reuters Foundation bekerja sama dengan YouGov melakukan survei terhadap 6.550 perempuan di 15 ibukota terbesar di dunia ditambah New York, sebagai kota terbesar di AS. Survei mengenai keamanan transportasi publik bagi perempuan ini difokuskan pada lima poin utama.

Pertama, seberapa aman perempuan bepergian sendiri di malam hari. Kedua, seberapa besar risiko mengalami pelecehan baik fisik atau verbal. Ketiga, seberapa besar kemungkinan penumpang lain saling menjaga. Keempat, kepercayaan pada pihak berwenang untuk menginvestigasi jika ada laporan pelecehan. Terakhir adalah ketersediaan transportasi publik yang aman.

 

Foto dok. Liputan6.com

Ancaman yang paling banyak dikeluhkan adalah soal pelecehan baik secara fisik dan verbal yang dialami oleh perempuan. Kita sendiri sering mendengar, turut terancam, bahkan pernah mengalami pelecehan yang terjadi di transportasi publik, commuter line misalnya. Hal ini dapat membatasi akses perempuan untuk mendapatkan pelayanan, mengganggu kesempatan untuk menikmati budaya dan hal rekreasional bahkan mengganggu kesehatan dan keberadaan perempuan itu sendiri.

Salah satu yang telah dilakukan adalah dengan adanya bagian khusus perempuan baik di kereta atau busway seperti di Jakarta, Bogota, Kairo, dan Kuala Lumpur. Sementara kota lainnya semakin mengembangkan layanan hotline 24 jam untuk laporan pelecehan dan kualitas penerangan.

Upaya perbaikan tentu harus terus dikembangkan. Bagaimanapun, transportasi publik yang aman dan nyaman bisa menjadi solusi persoalan kemacetan lalu lintas. (rn)

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya