Teknologi di PLTU Batang Satu-satunya di ASEAN

Proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Batang yang sempat mangkrak selama 4 tahun kembali dimulai

oleh Septian Deny diperbarui 24 Mar 2016, 15:00 WIB
Setelah beroperasi, PLTU Batang akan menjadi pembangkit terbesar di ASEAN

Liputan6.com, Jakarta Proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Batang yang sempat mangkrak selama 4 tahun kembali dimulai. Teknologi yang digunakan di pembangkit ini adalah satu-satunya di Asia Tenggara.

Presiden Direktur PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) Mohammad Effendi mengatakan, pada awal pencanangannya di 2011, proyek tersebut digadang-gadang menjadi pembangkit listrik terbesar di Asia Tenggara. Namun lantaran mangkrak, kini PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah mentenderkan beberapa pembangkit listrik dengan kapasitas serupa.

"Pada waktu itu iya (terbesar di Asia Tenggara). Kita kan 2x1.000 MW, satu unitnya itu 1.000 MW. Itu terbesar dan belum pernah ada. Itu pada 2011. Pada saat sekarang sudah ada beberapa lagi yang PLN tenderkan dengan ukuran 2x1.000 MW. Jadi sekarang bukan satu-satunya yang terbesar," ujarnya di Batang, Jawa Tengah, Kamis (24/3/2016).

 

Meski tak lagi menjadi satu-satunya yang terbesar, namun Effendi menyatakan teknologi yang digunakan merupakan teknologi satu-satunya pada pembangkit listrik yang ada di Asia Tenggara. Teknologi ini disebut Ultra Super Critical yang diadopsi dari Jepang.

"Tapi di negara lain belum ada. Teknologinya dari Jepang. Kalau di Asia Tenggara sepengetahuan saya belum pernah ada," kata dia.

Teknologi ini, lanjut Effendi, menghasilkan temperatur pembakaran batubara yang lebih tinggi dibandingkan teknologi pembakaran pada umumnya. Dengan demikian, kapasitas listrik yang dihasilkan lebih besar namun penggunaan batubaranya lebih efisien.

"Karena teknologi untuk bikin 1 unit 1.000 itu harus dilakukan reviewing kemudian berdasarkan pengalaman di lapagan baru timbul 1 unit 1000. Dan ini disebut Ultra Super Critical. Selama ini, ini yang paling tinggi yang pernah dibangun adalah Super Critical," katanya.

"Bedanya dengan ultra ini temperatur kerjanya makin tinggi, dengan demikian efisiensi pemakaian bahan bakarnya (batubara) semakin irit. Tetapi teknologi untuk membuat komponen supaya tahan dengan temperatur tinggi itu suatu teknologi sendiri," tandasnya.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya