Rupiah Kembali Menguat ke Level 12.993 per Dolar AS

Saat ini pelaku pasar fokus kepada neraca perdagangan Februari dan pengumuman BI Rate.

oleh Arthur Gideon diperbarui 14 Mar 2016, 12:38 WIB
Pengunjung memperlihatkan uang pecahan US$100 di Jakarta, Jumat (9/10/2015). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (9/10/2015) mengalami penguatan, bahkan bergerak ke level Rp 13.400. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat pada perdagangan di awal pekan ini. Kekhawatiran akan penguatan yang berlebih menahan rupiah ke level yang lebih tinggi.

Mengutip Bloomberg, Senin (14/3/2016), rupiah dibuka di level 12.993 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan pada pekan lalu yang ada di angka 13.074 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang ini, rupiah berada di kisaran 12.993 per dolar AS hingga 13.037 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah mampu menguat 5,66 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) rupiah dipatok di angka 13.020 per dolar AS. Menguat jika dibandingkan dengan patokan sebelumnya yang ada di angka 13.087 per dolar AS.

Mata uang di negara berkembang kembali melanjutkan penguatan setelah dua pekan sebelumnya juga terus bertahan tanpa pelemahan. Penguatan pada pekan ini didorong oleh membaiknya harga minyak dunia yang mendorong penguatan harga-harga komoditas.

Selain itu, komitmen China untuk memberikan stimulus sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi juga menjadi alasan penguatan mata yang di beberapa negara berkembang.

Rupiah sendiri terus menguat dan merupakan penguatan terbesar dalam 10 bulan terakhir. Penguatan rupiah memimpin di negara-negara ASEAN.

Sebenarnya, apa yang terjadi di China atau pelemahan pertumbuhan China memberikan sentimen negatif. Namun pelaku pasar tidak mengindahkan sentimen tersebut dan justru melihat janji yang diberikan oleh otoritas China bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.

Ekonom Mizuho Bank Ltd Singapura Vishnu Varathan menjelaskan bahwa apa yang dijanjikan tersebut sedikit meredam gejolak yang ada. "Harga komoditas yang stabil dan stimulus di China membuat pelaku pasar tidak terus menerus dilanda ketakutan." tuturnya.

Ekonom PT Samuel Sekuritas Rangga Cipta menambahkan, rupiah sebenarnya mampu menguat ke level yang lebih tinggi. Namun karena pemerintah khawatir akan penguatan kuat yang berlebih maka mata uang Garuda bertahan di kisaran 13.000 per dolar AS.

"Kekhawatiran naiknya rupiah yang terlalu kuat berperan mencegah dorongan penguatan yang berlebihan," tuturnya.

Saat ini pelaku pasar fokus kepada neraca perdagangan Februari dan pengumuman BI Rate. (Gdn/Ahm)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya