Bisnis Prostitusi Indonesia Capai Rp 30 Triliun

Persoalan mengenai prostitusi menjadi isu yang krusial di negara-negara dunia, termasuk Indonesia.

oleh Zulfi Suhendra diperbarui 24 Feb 2016, 19:20 WIB
Warga yang melintasi kawasan Kalijodo pada siang hari di Jakarta, Kamis, (11/02). Ada puluhan Cafe esek - esek dan lebih dari 400 PSK yang bekerja disana. (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Liputan6.com, Jakarta - Persoalan mengenai prostitusi menjadi isu yang krusial di negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Belanja seks atau prostitusi di Indonesia termasuk yang cukup besar di antara negara-negara lain.

Sebuah situs yang merilis informasi mengenai aktivitas pasar gelap dunia, Global Black Market Information, Havoscope, menyebut secara global pendapatan prostitusi mencapai US$ 186 miliar, atau jika dikonversi ke rupiah mencapai Rp 2.501,7 triliun.

Perkiraan jumlah tersebut didapat dari banyak sumber seperti program kesehatan publik, penegakan hukum dan tindak kriminal lain, serta informasi dari media.

Itu berarti orang-orang di dunia membelanjakanuangnya hingga Rp 2.501 triliun lebih hanya untuk prostitusi dalam setahun. Data dariHavocscope ini dirilis pada pertengahan 2015 lalu.

Kemudian, bicara mengenai Indonesia. Seperti dilansir Liputan6.com, Kamis (24/2/2016), dari 15 besar negara yang banyak menghabiskan uang untuk prostitusi, Indonesia berada di urutan ke-12. Menurut Havocscope, Indonesia menghabiskan US$ 2,25 miliar atau sekitar Rp 30,2 triliun dalam setahun.

Namun tak dijelaskan lebih lanjut dalam batasan apa besaran belanja prostitusi itu. Begitu juga dengan definisi prostitusi yang dimaksud. Apa perputaran uang dalam bisnis secara keseluruhan atau hanya sekedar menghabiskan uang untuk menyewa PSK. 

Belakangan ini, isu prostitusi semakin menyeruak usai pemerintah provinsi DKI Jakarta menertibkan kawasan Kalijodo, Jakarta Barat.

Prostitusi seolah menjadi persoalan yang tak ada habisnya. Setiap pemerintah daerah berupaya keras untuk memberantas prostitusi di daerah, dan membimbing para pekerja seks komersial untuk melakukan pekerjaan lain yang leboh layak.

Walikota Surabaya Tri Rismaharini sukses menyulap kawasan Dolly, yang dikenal sebagai kawasan prostitusi terbesar se-Asia Tenggara ini menjadi kawasan produktif. Tak sedikit para PSK di tempat tersebut yang dibina untuk melakukan pekerjaan yang produktif.

Contoh lain adalah upaya pemerintah kota Bandung menertibkan kawasan lokalisasi Saritem, yang sudah puluhan tahun berdiri di kota Bandung.

Tak mudah untuk menertibkan kawasan prostitusi di daerah-daerah tersebut karena ada penolakan dari warga setempat. Pasalnya tak sedikit juga warga menganggap adanya praktik prostitusi di kawasan tersebut menjadi penggerak roda ekonomi mereka.  (Zul/Ndw)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya