Ekonomi Jawa Bakal Tumbuh 5,49% pada 2016

BI dan pemerintah berkoordinasi untuk tingkatkan daya saing industri dan wisata guna dukung pertumbuhan ekonomi.

oleh Yanuar HDiterbitkan 13 November 2015, 21:35 WIB
Siluet tiang konstruksi pembangunan gedung bertingkat terlihat di Jakarta Pusat, Senin (19/10/2015). Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2015 sebesar 4,85 persen. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Liputan6.com, Yogyakarta - Pertumbuhan ekonomi Jawa diperkirakan tumbuh 5,49 persen pada 2016. Angka itu lebih tinggi dari target pertumbuhan ekonomi nasional 5,2 persen-5,3 persen pada 2016.

Gubernur Bank Indonesia (BI) menyampaikan hal itu dalam acara Rakor Pemerintah Daerah dan BI dengan tema mempercepat peningkatan daya saing industri dan wisata, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Ia mengatakan, saat ini pertumbuhan ekonomi mencapai 5,39 persen pada kuartal III 2015. Angka itu merupakan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi nasional diharapkan mencapai 4,67 persen apda 2015.

"Pada 2016, pertumbuhan ekonomi Jawa diharapkan berada pada kisaran 5,49 persen. Jika pertumbuhan ekonomi Nasional 5,2-5,3 persen dan APBN 2016 disetujui sebesar 5,3 persen. Insyaaalah pertumbuhan ekonomi Jawa sampai 5,49 persen," ujar Agus Jumat (13/11/2015). 

Baca Juga

  • Ekonomi Jatim Tumbuh Lebih Tinggi Ketimbang Nasional
  • Kebakaran Hutan Hambat Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
  • Menko Darmin Berharap Ekonomi RI Tumbuh 5% di Akhir Tahun

Agus juga mengatakan saat ini pihaknya juga mendiskusikan tentang inflasi pada kuartal III tahun 2015 di Jawa, kurang lebih 6,11 persen Year On Year (YOY). Jumlah ini lebih rendah dari inflasi tahunan Indonesia sebesar 6,25 persen.

Hal ini akan dipergunakan untuk penyusunan strategi pariwisata Indonesia agar berkembang dan lebih memiliki daya saing. Dengan ada koordinasi bersama pemerintah dapat meningkatkan daya saing industri pariwisata di Jawa.

"Ada tiga hal yang harus dilakukan yakni strategi akses sehingga wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik bisa datang ke objek wisata kita. Selain itu atraction atau penonjolan branding wisata dan terakhir amenities atau daya dukung seperti infrastruktur dan daya dukung lainnya adalah hal yang perlu diperhatikan," ujar Agus.

Agus juga menegaskan industri juga perlu memperkuat integrasi industri domesik dan global. Lantaran saat ini industri di Indonesia kebanyakan menggunakan teknologi yang rendah. Sementara kompetitor negara Indonesia menggunakan teknologi yang menengah atas. Sehingga perlu langkah menaikkan agar dapat kompetitif.

"Banyak langkah konkrit yang akan dilakukan pemerintah dan pemerintah daerah untuk dapat bersaing dengan negara lain," ujar Agus.(Fathi M/Ahm)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya