Bukan Dirampok, Uang Kampanye Fahmi Rp 130 Juta Raib di Meja Judi

Laporan perampokan yang disampaikan Imran, staf wakil bupati Majene dinyatakan palsu.

oleh Eka Hakim diperbarui 25 Okt 2015, 06:49 WIB
Imran, staf keuangan wakil bupati Majene membuat laporan perampokan palsu . (Liputan6.com/Eka Hakim)

Liputan6.com, Makassar - Setelah melakukan observasi kejiwaan dan penyelidikan mendalam, penyelidik Kepolisian Polres Majene yang didukung Polda Sulselbar akhirnya mengungkap fakta di balik kasus perampokan yang dilaporkan Imran, staf Wakil Bupati Majene Fahmi Massiara.

Kejadian perampokan yang dialami Imran merupakan laporan palsu. Ini lantaran uang kampanye senilai Rp 130 juta milik Fahmi, yang disebutkan digondol perampok itu hanya rekayasa. Uang itu ternyata dihabiskan oleh Imran di meja judi.

"Kasus Polres Majene adalah laporan palsu karena uang tersebut bukan dirampok saat korban Imran mengaku menjadi korban penculikan, melainkan uang itu habis digunakan bermain judi olehnya," kata Kepala Bidang Humas Polda Sulselbar Kombes Pol Frans Barung Mangera melalui pesan singkatnya kepada Liputan6.com di Makassar, Minggu (25/10/2015)

Frans menambahkan, setelah ditelusuri barang bukti lainnya berupa 2 handpone yang awalnya dilaporkan raib, ternyata berhasil ditemukan di selokan depan rumah Imran.

"Korban Imran merekayasa seolah-olah handpone itu diambil pelaku perampokan kemudian di-off-kan seperti dalam laporannya. Tapi setelah tim melacaknya, handpone itu berada dalam selokan depan rumahnya yang dibuang dia sendiri," sambung Frans.

Imran, menurut Frans, sejak awal sudah dicurigai jika kasus yang dilaporkannya ke Mapolres Majene hanya modus penggelapan. "Jadi apa yang dilakukan Imran merupakan salah satu modus penggelapan dengan merekayasa kejadian seakan-akan menjadi korban perampokan," jelas Frans.

Judi Online

Kapolres Majene AKBP Sonny Mahar mengungkapkan, uang sebanyak Rp 130 juta itu dihabiskan Imran di meja judi online. Itu diakui Imran setelah diinterogasi polisi.

"Setelah dilakukan tracking ponsel dan android si pelapor, Imran serta hasil interograsi mendalam, akhirnya pelapor mengaku bahwa semuanya adalah rekayasa. Saat ini uang proyek kampanye milik wabup telah habis digunakan bermain judi online sbobet," kata Sonny kepada Liputan6.com di Makassar.

Saat ini, lanjut Sonny, pihaknya masih melengkapi dan mencocokkan keterangan pelapor, Imran dengan barang bukti yang telah ditemukan tim gabungan setelah dilacak.

Hal senada disampaikan Kepala Subdit IV Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dit Reskrimum) Polda Sulselbar Kompol Gany Alamsyah. Dia mengatakan hal kasus perampokan yang dilaporkan Imran di Mapolres Majene merupakan rekayasa.

"Kasus itu rekayasa dimana setelah diinterogasi lebih mendalam, pelapor akhirnya mengakui jika uang senilai Rp 130 juta yang dilaporkan raib itu bukan karena dirampok melainkan digunakan berjudi online sbobet," tukas Gany.

Imran (26), staf wakil Bupati Majene, Fahmi Massiara yang saat ini mencalonkan kembali sebagai Bupati di Pilkada di Majene, Sulsel‎ sebelumnya mengaku shock dan trauma atas kejadian perampokan yang dialaminya.

Imran sebelumnya mengaku dirampok pada Kamis 22 oktober 2015 sekitar pukul 16 00 Wita. Saat itu, Imran sedang menunggu Wakil Bupati Majene di depan rumah pribadinya.

Tiba-tiba datang sebuah mobil berhenti dihadapannya lalu seseorang turun dari mobil tersebut menanyakan sebuah alamat. Saat tepat di samping mobil, ia langsung ditarik masuk ke dalam mobil, dimana di dalam mobil tersebut ada 4 orang tak di kenal.

Didalam mobil, menurut Imran, wajahnya ditutup dengan tangan pelaku dan dihipnotis. Pelaku membawanya hingga keluar dari Kabupaten Majene menuju Kabupaten Pinrang, Sulsel.

Sejumlah barang miliknya digondol oleh perampok. Selain itu, uang Rp 130 juta juga diakuinya raib.

Imran menyatakan jika dana ratusan juta itu merupakan dana keperluan kampanye milik wakil bupati majene yang saat ini kembali mengikuti pilkada serentak di Kabupaten Majene sebagai calon bupati Majene. (Ali/Vra)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya