Setahun Jokowi-JK, Paket Kebijakan Ekonomi Mujarab Angkat IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat sentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah pasar modal di level 5.523 pada April 2015.

oleh Achmad Dwi Afriyadi diperbarui 19 Okt 2015, 13:18 WIB
Sementara itu, 60 saham menguat dan 68 saham diam di tempat, Jakarta, Selasa (9/9/14). (Liputan6.com/Miftahul Hayat)

Liputan6.com, Jakarta - Pasar modal Indonesia mengalami tantangan berat selama setahun pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Tantangan itu terutama berasal dari sentimen eksternal yaitu rencana kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG sempat sentuh rekor sejarah di pasar modal dalam masa satu tahun pemerintahan Jokowi. IHSG sentuh level 5.523 pada 7 April 2015. Ketika itu, aliran dana investor asing masuk mencapai Rp 478,7 miliar.

Akan tetapi, gerak IHSG pun belum mampu mempertahankan level IHSG 5.500 tersebut. IHSG cenderung merosot sejak April. Secara year to date, IHSG telah susut 13,49 persen ke level 4.521,88 pada penutupan perdagangan saham 16 Oktober 2015.

Kepala Riset PT Universal Broker Securities, Satrio Utomo menuturkan rencana bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga membuat IHSG melemah. Bank sentral AS ingin menaikkan suku bunga mempertimbangkan data ekonomi AS dan global. Tak hanya IHSG saja, tetapi juga bursa saham global terkena sentimen negatif kebijakan The Fed itu.

"IHSG tertekan seiring sentimen global. Rencana The Fed menaikkan suku bunga," ujar Satrio saat dihubungi Liputan6.com.

Sementara itu, Analis PT Waterfront Securities, Oktavianus Marbun menuturkan, tantangan pasar modal Indonesia tak datang dari eksternal tetapi juga internal. Di awal pemerintahan, sempat ada ketegangan di parlemen.

"Kalau bicara market, the market is always right. Tapi market bergerak karena ada opini psikologis trading, laporan keuangan, implikasi dari kebijakan," ujar dia.

Akan tetapi, Satrio menilai, pemerintah telah mengeluarkan banyak langkah untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga bank sentral AS dan menggairahkan ekonomi Indonesia. Lewat paket kebijakan ekonomi jilid I-1V yang dikeluarkan oleh pemerintah telah memberikan sentimen positif ke pasar.

Satrio mengatakan, dengan rilis paket kebijakan ekonomi itu diharapkan dapat membuat perlambatan ekonomi berakhir yang telah berlangsung sejak 2012.IHSG sempat naik 9,03 persen dari level 4.207,79 pada 2 Oktober 2015 menjadi 4.589,34 pada 9 Oktober 2015.

Pada pekan itu, pemerintah telah mengeluarkan rilis paket kebijakan ekonomi jilid III. Aliran dana investor asing yang masuk mencapai Rp 2,32 triliun dalam sepekan.

"Dengan rilis paket kebijakan ekonomi itu menandakan kalau pemerintah serius bangun infrastruktur. Kita tunggu bagaimana realisasi ke depannya," kata Satrio yang ditulis Senin (19/10/2015).

Oktavianus menuturkan, salah satu kontribusi pemerintah untuk memperbaiki pasar modal baru terlihat setelah pemerintah merilis paket kebijakan ekonomi.

"Setahun ke belakang sejauh ini  yang paket kebijakan ekonomi I, II, III dan IV yang memperbaiki IHSG," tutur Oktavianus.

Dia mengatakan, hal tersebut terlihat dari respons pasar setelah paket kebijakan ekonomi dirilis IHSG merangkak menuju zona hijau. Oktavianus menuturkan, untuk kebijakan tersebut diharapkan berjalan secara konstisten dan berkelanjutan.

"Soalnya posisi kita market lesu. Tiba-tiba bisa naik dan bergerak agak stabil sejak keluarnya paket kebijakan tersebut. Makanya saya bilang kita lihat saja realisasinya. Paket kebijakan ekonomi itu tetap dilaksanakan supaya roda ekonomi kita berputar," papar Oktavianus.

Oktavianus memprediksi target IHSG di level 4.982 pada akhir 2015.

Sedangkan Analis LBP Enterprise, Lucky Bayu Purnomo mengatakan, saat ini pelaku pasar cenderung berspekulasi. Pelaku pasar memanfaatkan momentun untuk masuk ke bursa saham. Salah satunya memanfaatkan momentum dari rilis paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah.

Lucky juga mengapresiasi langkah pemerintah yang mengurangi subsidi harga bahan bakar minyak (BBM), dan akhirnya menurunkan harga BBM kecuali premium untuk menggairahkan daya beli masyarakat. (Amd/Ahm)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya