Penguatan Bursa Saham Asia Topang Rupiah

Kurs tengah Bank Indonesia juga mencatat nilai tukar rupiah naik 0,3 persen menjadi 14.244 per dolar AS pada Rabu pekan ini.

oleh Ifsan Lukmannul Hakim diperbarui 09 Sep 2015, 12:29 WIB
(Foto:Antara)

Liputan6.com, Jakarta - Penguatan bursa saham Asia berdampak positif ke pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (9/9/2015). Tercatat kurs tengah Bank Indonesia (BI) juga mengalami penguatan.

Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah dibuka menguat di level 14.248 per dolar Amerika Serikat (AS) dari harga penutupan perdagangan kemarin di level 14.280 per dolar Amerika Serikat (AS). Sejak pagi hingga siang, nilai tukar rupiah bergerak pada kisaran 14.224 per dolar AS hingga 14.271 per dolar AS. Rupiah bangkit dari titik terlemah dalam 17 tahun di level 14.304 yang di sentuh pada hari kemarin.

Kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatat, nilai tukar rupiah terangkat 0,3 persen menjadi 14.244 per dolar AS dari perdagangan sebelumnya yang berada di level 14.285 per dolar AS.

Bursa saham Asia bergerak positif didorong dari kenaikan indeks saham MSCI Asia Pacific sebesar 3,2 persen. Ini merupakan kenaikan terbesar sejak 2011. Penguatan tersebut juga tak terlepas dari bursa saham China positif. Gubernur People Bank Of China (bank sentral China) Zhou Xiaochuan mengatakan bangkitnya bursa saham China mengurangi permintaan dolar AS.

"Dolar sedikit lebih lembut pada perdagangan kemarin," kata Andy Ji, currency strategist Commonwealth Bank of Australia di Singapura.

"Pasar saham Cina bergerak sedikit lebih kencang, dan membantu juga," tambah Andy.

Menurut A.G Pahlevi Head of Research Archipelago Asset Management, penguatan nilai tukar rupiah lebih karena faktor eksternal, karena hampir semua mata uang regional menguat terhadap dolar AS. "Secara teknikal, hampir semua mata uang regional menguat (terhadap dolar AS), kata Pahlevi .

Pahlevi  belum melihat ada sentimen positif dalam negeri dan menegaskan rendahnya serapan anggaran ditambah ketidakkompakan yang diperlihatkan oleh pemerintah menyebabkan sentimen negatif bagi rupiah. (Ilh/Ahm)

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya