Kenapa Ada Film Nasional yang Ditayangkan Berkali-kali di TV?

Apa pertimbangan pihak stasiun TV saat membeli hak tayang sebuah film?

oleh Puji Astuti HPS diperbarui 31 Agu 2015, 17:20 WIB
adegan film Serigala Terakhir (2009). (dok. istimewa)

Liputan6.com, Jakarta Sudah nonton Serigala Terakhir? Nonton di bioskop saat edar akhir 2009 silam atau di layar gelas?

Wajar pertanyaan begitu saya ajukan. Sebab, film besutan Upi Avianto itu sangat sering diputar di layar kaca, tepatnya di SCTV. Entah sudah berapa kali. Saya tak punya catatan pasti. Mungkin sudah puluhan kali diputar barangkali.

Terakhir, Serigala Terakhir ditayangkan pada Rabu, 26 Agustus lalu. Konon, film yang dibintangi Vino G. Bastian ini selalu dapat share yang baik tiap kali diputar, selalu diatas 15 persen.

Hal yang sama juga terjadi pada film Operation Wedding. Film yang jadi duet Yuki Kato dan Adipati Dolken dilayar lebar ini sangat sering diputar SCTV. Pernah sekali waktu, dalam seminggu film produksi Starvision Plus ini diputar dua kali.

Menurut catatan saya, Operation Wedding pernah mendapat share tinggi hingga 21 persen. Itu berarti Operation Wedding tak kurang ditonton 10 juta masyarakat Indonesia. Padahal saat tayang di bioskop 2013 lalu, film ini hanya mampu menggaet 157 ribuan penonton. Wow!

Adegan film Operation Wedding.

Dua film ini tak sendirian. Get Married dan sekuel-sekuelnya, Emak Ingin Naik Haji, Hafalan Sholat Delisa, adalah judul yang paling sering kita lihat tayang di TV, khususnya di SCTV.

Pertanyaannya kemudian, mengapa film-film tersebut sering sekali diputar ulang di stasiun TV? Apakah tipikal film mempengaruhi?

Sebelumnya perlu diketahui, bagaimana proses film bisa dijual ke stasiun TV. Prosesnya tidak memakai tender. Ada beberapa rumah produksi yang menjual filmnya sebelum ditayangkan di bioskop. Dan ada pula yang menjualnya belakangan setelah film dirilis. Namun ada juga pihak stasiun TV yang membantu proses produksi karena memang dibuat production house (PH) yang satu group usaha dengan stasiun TV itu sendiri dan otomatis film tersebut akan tayang di stasiun TV yang bersangkutan.

Adegan film Get Married.

Misal, MNC Pictures memproduksi 7/24 yang dibintangi Dian Sastrowardoyo dan Lukman Sardi, maka filmnya tentu bakal tayang di RCTI yang dimiliki group MNC. Contoh lain, Screenplay Films membuat Magic Hour. Karena Screenplay satu group usaha dengan SCTV, maka stasiun TV itu yang bakal menayangkannya.

Proses selanjutnya setelah deal harga adalah kerjasama promosi. Contohnya begini, Magic Hour sudah pasti bakal tayang di SCTV. Maka para pemain bisa melakukan promo di acara yang tayang di SCTV seperti Inbox atau masuk beberapa infotainment SCTV. Mengingat Magic Hour adalah produksi Screenplay Films, anak induk dari Screenplay Production yang menyetor sinetron dan FTV ke SCTV, trailer Magic Hour pun muncul ketika ending title sinetron atau running text. Makanya kita kerap melihat trailer Magic Hour di closing High School Love Story, satu-satunya sinetron produksi Screenplay yang kini tengah tayang.

Lalu apa pertimbangan pihak stasiun TV saat membeli hak tayang sebuah film?

Pemain sudah pasti yang pertama dilihat. Apakah pemain sedang ngetop dan mendatangkan rating jika filmnya tayang di TV. Sekadar info, bocoran harga film untuk stasiun TV selevel SCTV (juga RCTI) ada di kisaran Rp 2 Milyar untuk film Box Office dengan kontrak tayangan 2 kali yakni untuk tayang prime time dan rerun siang. Untuk film yang biasa-biasa saja diperkirakan Rp 500 juta. Angka itu sangat membantu pemasukan bagi produser, selain dari bioskop. Apalagi di tengah nilai jual lewat home video (DVD) turun drastis nyaris talk ada harganya kini.

Lalu, bagaimana jika film tersebut bisa tayang berkali-kali?

Adegan film Magic Hour. (dok.Screenplay Films)

Dalam hal ini, ada sistem perpanjangan kontrak. Nilainya biasanya menurun karena tak dihitung sebagai film baru lagi. Bisa setengahnya bahkan 25 persen dari harga deal. Harga lalu bisa turun terus berdasarkan perpanjangan kontraknya. Bila kontrak habis, bisa pula film tersebut pindah dan tayang ke stasiun TV lain.

Setelah pemain, pertimbangan lainnya adalah genre dan segmentasi film. Penonton kita sangat suka tertawa dan menangis. Maka, komedi dan drama sudah pasti yang paling laku diincar. Namun juga melihat faktor segmentasi film. Apakah layak disaksikan untuk semua umur karena pihak stasiun TV biasanya memilih film "aman" untuk bisa tayang di prime time.

Film komedi dan drama remaja biasanya lebih mudah untuk ditayangkan. Contohnya Get Married dan Operation Wedding. Atau yang dapat membuat penonton terharu hanyut seperti Emak Ingin Naik Haji dan Hafalan Shalat Delisa.

Khusus untuk film pertama di awal, Serigala Terakhir. Film ini bukan film komedi atau drama biasa. Serigala Terakhir film drama yang penuh adegan kekerasan. Tak heran, SCTV tak pernah menayangkannya di slot prime time. Serigala Terakhir biasanya tayang di atas pukul 12 malam. Kenapa bisa tayang berkali-kali dan masih bisa mendapat share rating yang bagus padahal tayang sangat larut?

Salah satu alasan yang sering kita dengar adalah sebab film ini dibintangi banyak sekali aktor keren. Selain itu, ceritanya juga membuat kita simpati. Meski adegan actionnya tak sebagus The Raid tapi sudah cukup bikin penonton terpukau dan bikin ketagihan. Itu sebabnya film ini selalu menarik atensi penonton terus-terusan.

Dan jangan heran, jika Serigala Terakhir masih akan diputar beberapa kali lagi dikemudian hari dan mungkin masih tetap dapat share rating yang tinggi.** (Puj/Ade)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya