Cara Ahok Redam Emosi di Hadapan Anak Kecil

Saat meluapkan kemarahan di JakBook and Education Fair 2015, Ahok tidak sampai mengeluarkan kata-kata bernada kotor.

oleh Ahmad Romadoni diperbarui 28 Jul 2015, 04:32 WIB
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. (Liputan6.com/Ahmad Romadoni)

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sangat marah melihat pameran JakBook and Education Fair 2015. Harga barang dijajakan di pameran justru lebih mahal di pasaran.

Beruntung saat meluapkan kemarahan itu, Ahok tidak sampai mengeluarkan kata-kata bernada kotor. Mengingat masih banyak anak-anak yang hadir dalam acara itu.

Ahok ternyata punya cara sendiri untuk meredam emosinya di hadapan anak-anak. Dia sudah lebih dulu meluapkan kemarahan di kamar mandi.

"Saya lagi pikir ngomongnya apa yang baik karena banyak anak kecil. Maklum kadang orang kampung suka korslet. Saya sudah marah-marah di WC tadi. Yang kotor-kotor sudah saya keluarkan," ungkap Ahok saat sambutan di Parkir Timur, Senayan, Jakarta, Senin (27/7/2015).

Ahok tidak ingin hal serupa terjadi lagi. Terlebih, yang menjadi korban adalah rakyat kecil yang notabene harus dibantu.

"Kalau mau cari lawan jangan cari saya, saya hobinya ngelawan memang. Kalau mau zolimin jangan orang kecil," tegas dia.

Mantan Bupati Belitung Timur itu teringat pesan sang ayah yang harus membantu orang tidak mampu bila menjadi pejabat. Terhitung sudah Rp 2,4 triliun untuk orang miskin agar bisa sekolah.

"Saya tidak suka kalau seperti ini. Saya kalau yang kurang ajar saya tidak pernah takut sama kamu. Duel masih ok lah," cetus Ahok

"Saya mohon maaf bagi anak-anak yang susah payah seperti ini," tutup Ahok.

Kemarahan Ahok berawal dari sekelompok warga yang mengadu padanya di Balaikota terkait keluhan mahalnya barang-barang yang dijual. Dia lalu meminta beberapa orang untuk memeriksa langsung dan laporan itu benar.

Mantan Bupati Belitung Timur itu menuturkan, kesepakatan menyelenggarakan pameran sudah sejak setahun lalu. Dia hanya ingin membantu melalui jumlah pengunjung.

Tahun lalu, pameran yang diselenggarakan Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) itu hanya mencetak 350 ribu pengunjung. Ahok lalu menawarkan penambahan 489 ribu pengunjung yang berasal dari siswa pemilik KJP. Sebagai gantinya, Ikapi harus menjual barang dagangan lebih murah dibanding harga pasar.

Hasilnya justru sebaliknya. Harga yang dijual di pameran memang sangat jauh selisihnya dengan harga pasar. 1 box pulpen dipasaran Rp 30 ribu, di pameran Rp 40 ribu, buku gambar satu pak seharunya Rp 27 ribu dijual Rp 55 ribu, tas yang biasanya Rp 75 ribu dijual Rp 170 ribu.

Puncaknya, mantan politisi Golkar dan Gerindra itu mengimbau warga untuk beli berbagai kebutuhan sekolah di lokasi lain. Yang penting, toko itu memiliki EDC (electronic data capture) bank yang tergabung dalam prima atau ATM bersama. (Ali)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya