Pelajar Makassar Ciptakan Pembersih Lantai Non Kimia

Limbah berbahaya yang berasal dari keperluan rumah tangga diyakini telah menurunkan kualitas air.

oleh Eka Hakim diperbarui 13 Mei 2015, 11:11 WIB
Limbah berbahaya yang berasal dari keperluan rumah tangga diyakini telah menurunkan kualitas air.

Liputan6.com, Makassar - Bahan-bahan pembersih lantai selama ini dibuat oleh pabrik dengan kandungan bahan kimia, yang pada akhirnya akan menjadi limbah berbahaya.

Limbah berbahaya yang berasal dari keperluan rumah tangga tersebut diyakini telah menurunkan kualitas air, meresap dan mencemari sumur sumur di sekitar sungai. Limbah deterjen juga dapat membunuh organisme air, sehingga manusia yang mengonsumsi ikan dari sungai tersebut berisiko terkena kanker. 

Bahayanya lagi, senyawa-senyawa zat kimia pembersih lantai yang mengalir ke sungai-sungai itu sangat sulit diurai dan bersifat tahan lama. 

Berkaca dari pengamatan tersebut, siswa-siswi MTsN Model Makassar berusaha ikut memecahkan masalah tersebut dengan membuat deterjen pembersih lantai yang ramah lingkungan. Mereka menciptakannya dari berbagai bahan dasar yang berasal dari alam.

"Dijamin daya membersihkannya tak kalah dengan deterjen sintesis berbahan kimia," kata Alif Farhan, salah satu siswa kelas 8 MTs Model yang menemukan bahan tersebut.

Untuk pembersih lantai raham lingkungan tersebut, alat yang mereka butuhkan adalah botol bekas, ember, dan pengaduk (sendok). Sedangkan bahannya sendiri terdiri dari setengah galon air panas atau sekitar 9,5 liter, garam 125 mg, cuka 70 mili, setengah kilo jeruk nipis, 40 Ml botol kecil soda kue, dan pewarna makanan secukupnya.

"Reaksi percampuran garam dan jeruk nipis memiliki tingkat efektifitas membersihkan noda pada lantai dengan baik, " ujar Tharisya Amiharna, siswa kelas 8 MTs Model lainnya yang ikut menemukan bahan ini.

Sambung Tharisya, ia bersama Alif juga mendapatkan fungsi dari soda kue. Dimana dapat membunuh bakteri.

"Kami juga menggunakan soda kue, karena soda kue ini ternyata memiliki PH 8, yang bisa membunuh bakteri yang hanya bisa hidup pada kondisi PH7 ke bawah," ujarnya.

Sedangkan pewarna makanan, kata Tharisya berguna untuk membuat pembersih lantai persis warnanya dengan pembersih lantai yang ada di pasaran. "Warna hijau pembersih ini berasal dari pewarna makanan yang bahan dasarnya adalah daun pandan," sambung Tharisya.

Usai meracik seluruh bahan tersebut, kedua siswa kelas 8 MTs Model ‎tersebut menunjukkan hasilnya dengan langsung membersihkan ubin dan membandingkan dengan pembersih sintetis lain berbahan kimia di hadapan ratusan pengunjung yang memadati pameran pendidikan USAID PRIORITAS di gedung phinisi UNiversitas Negeri Makassar yang berlangsung Selasa (12/5/2015). Dan ternyata hasilnya sama.

Demonstrasi siswa ini mendapatkan apresiasi yang tinggi dari Imam Syafei Kasubag Ketenagaan Kemenag RI. Di hadapan peserta dia berharap, sekolah-sekolah ke depan bisa lebih jauh lagi mengembangkan karakter inovatif.

"Saya harap ke depannya semua sekolah dapat mengembangkan karakter inovatif seperti ini lebih jauh lagi, " singkat Syafei.

(eka/dhi)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya