Nyepi dan Gulita di Pulau Dewata

Boleh dibilang, sepanjang Sabtu 21 Maret 2015, suasana sunyi senyap, hening dan damai menyelimuti Bali.

oleh RinaldoMaria FloraYanuar HDewi Divianta diperbarui 22 Mar 2015, 00:20 WIB
Ilustrasi suasana perayaan Nyepi di Bali. (bali.panduanwisata.id)

Liputan6.com, Denpasar - Sejak fajar menyingsing di ufuk timur hingga Matahari kembali terbit keesokan harinya, seluruh pemeluk Hindu di Bali termasuk di berbagai daerah di Tanah Air, menjalankan Tapa Bratha penyepian. Hari Raya Nyepi dilaksanakan seluruh umat Hindu di Bali. Tidak ada aktivitas, semua melakukan Tapa Bratha penyepian sejak Sabtu pagi 21 Maret hingga Minggu pagi 22 Maret 2015.

Foto dok. Liputan6.com

(Foto: disbud.baliprov.go.id)

Umat Hindu menjalankan 4 esensi Nyepi. Yakni, amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja/beraktivitas), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelangunan (tidak diperkenankan untuk menghibur diri). Selain melaksanakan 4 pantangan, Nyepi bagi umat Hindu sekaligus sebagai masa untuk introspeksi diri.

Dan menjelang pukul 19.00 Wita, Pulau Bali yang biasa selalu makin ramai jika malam tiba, kali ini menjadi gelap gulita. Tidak ada satu pun warga Bali yang menyalakan lampu.

Hening tidak ada suara ataupun kegaduhan. Laksana kota mati. Hanya sesekali terdengar suara jangkrik dan lolongan anjing di tengah kesunyian perayaan Nyepi Tahun Saka 1937. Masyarakat Hindu Bali benar-benar sangat khidmat menjalankan perayaan Nyepi.

Untuk menjaga perayaan Nyepi di Bali agar tertib dan aman, sejumlah pecalang atau pengamanan desa adat Kuta dikerahkan. Mereka bertugas berpatroli di sekitar wilayah tersebut.

Insiden Knalpot 'Brong'

Namun ada saja insiden kecil. AT, seorang pendatang, diringkus petugas lantaran nekat mengendarai sepeda motornya yang menggunakan knalpot 'brong' saat perayaan Hari Nyepi di Jembrana, Bali.

AT yang berniat membeli rokok itu diringkus pecalang atau keamanan desa setempat di depan SPBU Pekutatan, Jembrana. Lelaki berumur 24 tahun itu langsung digiring ke Mapolsek Pekutatan, Jembrana, Bali.

Kasat Reskrim Polres Jembrana AKP Gusti Made Sudarma Putra mengatakan, pemuda tersebut kini telah diamankan di Polsek Pekutatan. Berdasarkan pengakuannya, AT nekat menumpangi sepeda motornya lantaran ingin membeli rokok.

"Katanya rokoknya habis. Makanya dia berniat pergi untuk membeli," ujar Kasat Reskrim Polres Jembrana AKP Gusti Made Sudarma Putra saat dihubungi di Bali, Sabtu, 21 Maret 2015.

Walau sempat membuat gempar penduduk setempat yang tengah khusyuk merayakan Nyepi, insiden itu tak merusak keheningan dan kekhidmatan para pemeluk Hindu.

Hening dan Damai Menyelimuti Bali

Boleh dibilang, sepanjang Sabtu 21 Maret 2015, suasana sunyi senyap, hening dan damai menyelimuti Bali.

Di Kuta, misalnya. Sejak Sabtu pagi, kawasan wisata di Kabupaten Badung, Bali yang biasanya macet serta pantai yang ramai oleh turis itu tampak lengang dan sepi. Untuk menjaga perayaan Nyepi agar tertib dan aman, sejumlah pecalang atau pengamanan desa adat Kuta dikerahkan. Mereka bertugas berpatroli di sekitar wilayah tersebut.

Foto dok. Liputan6.com

(Liputan6 TV)

Kondisi serupa terlihat di ibukota Provinsi Bali, Denpasar. Kawasan sekitar Patung Catur Muka, Denpasar yang biasanya ramai dilalui kendaraan tampak sepi. Kota Denpasar, tempat-tempat wisata dan pusat perekonomian yang biasanya diwarnai kemacetan lalu lintas berubah total menjadi sepi dan sunyi.

Pulau Dewata hari ini bagaikan pulau tanpa penghuni karena warganya, yang mayoritas beragama Hindu, merayakan Nyepi yakni mengurung diri melaksanakan ibadah Tapa Bratha.

Pada perayaan Nyepi Tahun Saka 1937, rumah-rumah penduduk tertutup rapat. Tidak ada suara gaduh, polusi dan aktivitas apa pun. Bahkan semua saluran televisi, termasuk yang berbayar diputus sementara agar pelaksanaan Nyepi berjalan khidmat.

Selain melaksanakan 4 pantangan, Nyepi bagi umat Hindu sekaligus sebagai masa untuk introspeksi diri yang berlangsung selama 24 jam.

Seperti dikutip dari Antara, hanya terdengar suara alam seperti terpaan angin meniup pepohonan dan kicauan burung di hampir seluruh pelosok Bali. Kawasan permukiman yang dihuni etnis dan agama lain, memperlihatkan toleransi tinggi menghormati pelaksanaan Tapa Bratha penyepian. Termasuk para wisatawan hanya menjalankan aktivitas di dalam hotel.

'Eksodus'

Seperti Hari Raya Nyepi tahun lalu, 'eksodus' ribuan warga meninggalkan Pulau Dewata melalui Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali mulai ramai sejak Jumat 20 Maret 2015. Tak mengherankan, bila ribuan kendaraan baik sepeda motor maupun mobil pribadi harus menunggu hingga 3 jam, sebelum masuk ke lokasi parkir Pelabuhan Gilimanuk.

Foto dok. Liputan6.com

(Liputan6 TV)

Jalur penyeberangan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur dan Gilimanuk, Jembrana pun ditutup total menjelang perayaan Hari Raya Nyepi di Pulau Bali mulai Jumat malam.

Pihak ASDP Ketapang menyiagakan sebanyak 32 kapal feri untuk mengangkut penumpang dari Pelabuhan Gilimanuk-Ketapang dan sebaliknya. Pelabuhan Ketapang akan dibuka kembali pada Minggu 22 Maret 2015 pukul 05.30 WIB.

Sebanyak 422 penerbangan menuju dan dari Bali di Bandara I Gusti Ngurah Rai pun tidak beroperasi selama Hari Raya Nyepi. Co General Manager PT Angkasa Pura I Bandara I Gusti Ngurah Rai, I Gusti Ngurah Ardita mengatakan, penutupan dilakukan mulai pukul 06.00 Wita pada 21 Maret 2015 hingga pukul 06.00 Wita pada 22 Maret 2015.

Festival Ogoh-ogoh

Hari Raya Nyepi dirayakan umat Hindu di seluruh dunia. Tak terkecuali Bali, pulau yang selalu menyuguhkan segala keindahan alam dan bermacam budaya ini.

Sehari menjelang Nyepi, masyarakat Bali biasa menggelar arakan ogoh-ogoh yang mengandung makna matinya Adharma (kejahatan) oleh Dharma (kebaikan) di malam Pengrupukan jelang perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1937.

Komang Odon, warga Denpasar yang tengah mempersiapkan ogoh-ogoh di Banjar (Kelurahan) mengatakan, ogoh-ogoh adalah simbol kejahatan yang kalah atas kebaikan. Ia mengaku setelah selesai ogoh-ogoh yang menghabiskan biaya mencapai puluhan juta rupiah itu langsung dibakar.

"Ogoh-ogohnya nanti selesai diarak dibakar mbak," kata dia kepada Liputan6.com di Banjar Abasan, Denpasar, Bali, Jumat 20 Maret 2015.

Foto dok. Liputan6.com

(Foto: Liputan6.com/Johan Tallo)

Festival Ogoh-ogoh tak hanya dihelat di Bali. Beberapa kota seperti Palu, Serang, bahkan Yogyakarta menggelar ritual menjelang Nyepi.

Pesan Jokowi

Selain ogoh-ogoh, rangkaian perayaan Nyepi adalah upacara Melasti dan Tawur Agung Kesanga. Dan secara nasional, upacara Tawur Agung Kesanga dihelat di Kompleks Candi Prambanan, perbatasan Klaten, Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Foto dok. Liputan6.com

(Foto: Liputan6.com/Fathi Mahmud)

Sementara dalam pesannya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi berharap umat Hindu dapat terus menjaga toleransi di kehidupan bermasyarakat. Ia pun mengucapkan selamat Hari Nyepi 2015.

"Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1937 semoga Hari Nyepi di mana pun berada memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan," ucap Jokowi yang bersama Ibu Negara Iriana Widodo menghadiri upacara Tawur Agung Kesanga Nasional di Kompleks Candi Prambanan, Jumat 20 Maret 2015. (Ans/Riz)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya