Kepopuleran Batik Indonesia Merambah Sudan Hingga Afrika

Bukan omong kosong belaka, fakta bahwa batik punya tempat tersendiri di Sudan dikemukakan sang dubes.

oleh Andreas Gerry Tuwo diperbarui 21 Jan 2015, 16:13 WIB
Duta besar Sudan Abdul Al Rahim Al Siddig. (Liputan6.com/Andreas Gerry Tuwo)

Liputan6.com, Jakarta - Pakaian khas Indonesia, batik ternyata tidak hanya populer di Tanah Air. Puluhan ribu kilometer dari negeri asal, tepatnya di Sudan, juga menjadi pakaian yang sangat digandrungi.

Bukan omong kosong belaka, fakta bahwa batik punya tempat tersendiri di negara yang terletak di antara Timur Tengah dan Afrika Timur tersebut langsung keluar dari mulut Duta Besar Sudan untuk Indonesia Abdul Al Rahim Al Siddig.

"Di Sudan batik sudah sangat terkenal dan populer," sebut Al Rahim di kantor Kedutaan Besar Sudan, Rabu (21/1/2015).

Al Rahim menyebut saking populernya batik di Sudan, pakaian tersebut sudah masuk dalam salah satu barang yang dijadikan komoditi ekspor Indonesia ke negaranya. Bahkan di Sudan, ada satu tempat khusus menjual batik dari negara pimpinan Presiden Jokowi ini.

Di samping soal batik, Al Rahim turut memaparkan mengenai sejumlah kerjasama yang telah dijalin RI-Sudan. Yakni di beberapa sektor seperti agrikultur, hewan ternak, perikanan, perdagangan, edukasi dan budaya.

Sektor perdagangan merupakan salah satu sektor kerjasama yang disorot oleh Al Rahim. Sebab, volume perdagangan kedua negara telah meningkat hingga mencapai nilai US$ 747.800.000.

Meningkatnya nilai perdagangan tersebut, menurut Al Rahim dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Namun, salah satu faktor utama ialah partisipasi aktif dari pelaku bisnis kedua negara.

"Partisipasi aktif dari para pelaku bisnis di sejumlah exhibitions trade menjadi faktor yang memberi kontribusi dalam meningkatkan kerjasama ekonomi dan komersial RI dan Sudan," tandas dia.

Filosofi batik Nelson Mandela

Tak hanya di Sudan, Mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela yang wafat pada usia 95 tahun itu juga terkenal dengan filosofi batiknya.

Hal itu dikemukakan Duta Besar RI untuk Afrika Selatan, Sungeng Raharjo.

Menurut Sugeng, filosofi pembuatan batik yang memerlukan kesabaran dan keharmonisan merupakan cermin kuat kepribadian Mandela. Bahkan, terkesan Mandela mencintai produk asli Indonesia itu dengan mengenakan batik pada banyak acara-acara resmi. Termasuk pada acara penutupan Piala Dunia tahun 2010.

Dikutip dari BBC 6 Desember 2013, Sugeng mengatakan, perkenalan pertama Mandela dengan batik terjadi pada tahun 1990. Atau beberapa bulan setelah ia dibebaskan dari penjara Pulau Roben. (Tnt/Mut)

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya