Cendekiawan: Jihad dengan <i>Counter</i> Peradaban Lebih Positif

Tetap terbuka peluang bagi pemerintah dan masyarakat menafsirkan jihad untuk kepentingan bangsa. Keterpurukan ekonomi dan ancaman disintegrasi bangsa seharusnya menjadi perhatian bersama.

oleh Liputan6Diterbitkan 12 Oktober 2001, 08:12 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Jihad yang harus diprioritaskan umat muslim di Indonesia adalah menyelamatkan 200 juta penduduk karena solidaritas memiliki banyak bentuk. "Jihad yang lebih penting yaitu menyelamatkan Indonesia dari disintegrasi. Keterpurukan ekonomi dan pengangguran kalau kita memutuskan hubungan diplomatik dengan Amerika," kata cendekiawan muda Nahdlatul Ulama Ulil Abshar Abdalla saat berdialog dengan presenter SCTV, Arief Suditomo, Kamis (11/10).

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadyah Ahmad Syafii Ma`arif mengatakan tetap terbuka peluang bagi pemerintah dan masyarakat untuk menafsirkan jihad untuk kepentingan bangsa. Dia mengatakan kenyataan bangsa Indonesia saat ini hampir bangkrut. " Hal ini kenapa tidak kita pikirkan, tapi kalau ada pihak-pihak yang tidak mau bagaimana," kata dia.

Cendekiawan muslim Profesor Doktor Nazarudin Umar menjelaskan kata jihad berasal dari akar kata jahada yang berarti melakukan sesuatu secara optimal. Saat ini, kata dia, jihad berkonotasi pada kekuatan otot. Padahal jihad juga melahirkan kata ijtihad yang berarti perjuangan secara otak. Kata itu juga memunculkan mujahada atau perjuangan secara spiritual dan rohani.

Pendapat senada disampaikan Ahmad Syafii Ma`arif. Menurut dia, jihad bisa dilakukan dengan harta dan jiwa, tapi tidak semata-mata berarti perang. Tapi saat ini sebagian masyarakat muslim Indonesia memandang jihad sama dengan perang. Syafii mengatakan Islam sebagai doktrin memang memperbolehkan banyak penafsiran berdasarkan kepentingan. Dia berpendapat Islam jangan ditundukkan pada kepentingan politik jangka pendek. " Tapi itu yang terjadi saat ini, " keluhnya.

Nazarudin bisa memahami kekecewaan muslim di Indonesia terhadap peristiwa di Afghanistan. Dia berpendapat larangan pemerintah itu karena jihad ke sana lebih banyak mudharat dibanding manfaat. Bahkan jihad Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam senantiasa melalui pertimbangan panjang. Penyeru kebajikan terhadap umat manusia itu bahkan tak keberatan jika harus kehilangan teman demi mempertahankan pendapatnya. "Jihad lain perlu dikembangkan seperti counter peradaban. Kalau itu yang terjadi kan positif," kata pengajar Institut Agama Islam Negeri Jakarta Syarief Hidayatullah ini.

Menurut dia, tindakan sebagian orang Indonesia ke Afghanistan tidak bisa dibenarkan jika dilihat dari pemahaman jihad. Menurut dia, jihad tidak berdiri sendiri karena jihad secara profesional yang dilakukan Nabi Muhammad SAW yaitu mengutuhkan ketiga makna jihad. " Tidak bisa dikatakan jihad fisik lebih utama dari ijtihad," kata dia.

Sedangkan Syafi`i mengatakan biarkan saja orang Indonesia yang telah berangkat ke Afghanistan. Menurut anggota Dewan Pertimbangan Agung ini pemerintah tak boleh bertindak ekstrem terhadap mereka dengan mencabut kewarganegaraan. "Kita hanya bisa berlapang dada melihat kenyataan, " kata dia.

Bagi Ulil Abshar Abdalla, niat sebagian orang Indonesia ke Afghanistan adalah hak masing-masing. Sebagai pribadi dia menyatakan tidak setuju tindakan itu karena jihad fisik masih jauh lebih rendah nilainya. Lulusan Fakultas Syariah di Lembaga Pendidikan Islam dan Arab, Jakarta, itu berpendapat jihad lebih banyak menjadi komoditas pandangan orang yang konservatif. Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia NU memperkirakan pemerintah memiliki pertimbangan keamanan dan politik melarang warganya pergi ke Afghanistan.(COK)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya