5 Faktor yang Membuat Liverpool Terpuruk

Kegagalan lolos ke babak 16 besar melengkapi derita "The Reds" musim ini.

oleh Juprianto Alexander SianiparDiterbitkan 15 Desember 2014, 20:49 WIB
Liverpool vs Basel (AFP/Paul ellis)

Liputan6.com, Liverpool - Liverpool sedang berada di titik nadir. Sebabnya adalah kegagalan Steven Gerrard dan kawan-kawan lolos ke babak 16 besar Liga Champions musim lalu. Butuh kemenangan di laga pamungkas Grup B, tim kota pelabuhan justru hanya bermain imbang 1-1 dengan FC Basel.

Tersingkir dari Liga Champions membuat derita Liverpool kian lengkap musim ini. Maklum, performa “The Reds” di Liga Primer juga mengecewakan. Hingga pekan ke-15, Steven Gerrard dan kawan-kawan masih berada di peringkat kesembilan klasemen. Padahal, musim lalu Liverpool mengakhiri musim di posisi runner-up. Apalagi di laga terakhir, The Reds kalah telak dari musuh bebuyutannya, Manchester United, 0-3.

Kegagalan demi kegagalan ini otomatis bikin posisi sang pelatih Brendan Rodgers kian terjepit. Pelatih asal Irlandia Utara itu pun dihujani kritik gara-gara menurunnya performa Liverpool sepeninggal Luis Suarez yang hijrah ke Barcelona, awal musim ini.

Apa saja penyebab kegagalan Liverpool musim ini ? Berikut lima kesalahan besar Rodgers sejak awal musim ini :


Pembelian Gagal

Mario Balotelli (Mirror)

Liverpool menghabiskan 120 juta poundsterling atau sekitar Rp 2, 3 triliun hanya untuk belanja pemain baru. Rodgers membeli Adam Lallana dari Southampton dengan harga 26 juta pounds (Rp 503 miliar), saat Chelsea mengeluarkan uang dengan jumlah sama untuk seorang Cesc Fabregas.

Selain itu, 20 juta pounds dihabiskan untuk merekrut Lazar Markovic dan Dejan Lovren, Mario Balotelli (16 juta),  Emre Can (10 juta), hingga Alberto Moreno (12 juta). Hasilnya, tidak satu pun dari deretan pemain ini memberi kontribusi besar. Bahkan, kebijakan transfer Liverpool ini dianggap sebagai yang paling buruk sepanjang sejarah transfer klub besar.


Rotasi yang Tidak Jelas

Kapten Liverpool, Steven Gerrard (kanan) tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya usai dikalahkan Chelsea 0-2 di stadion Anfield, Liverpool, (27/4/2014). (REUTERS/Darren Staples)

Sukses Liverpool musim lalu berkat kejelian Rodgers dalam meramu siapa pemain yang pantas turun sebagai pemain inti. Ukurannya, adalah performa sang pemain itu sendiri. Namun, musim ini kebijakan semacam ini tidak terlihat lagi. Justru, pemain yang tampil bagus pekan ini belum tentu bermain di pekan berikutnya.

Emre Can tampil apik saat Liverpool kalah 1-2 dari Chelsea, namun sejak saat itu kesempatan tampil Can justru semakin berkurang.  Hal yang sama berlaku pada Moreno. Bek kiri asal Spanyol itu memulai musim dengan bagus namun kerap kali tidak dimainkan oleh Rodgers dalam beberapa pertandingan. Bahkan, Philippe Coutinho yang menyabet gelar pemain terbaik Liverpool bulan November sangat jarang bermain setelah menyabet gelar tersebut.

Lanjut Baca:

Musim lalu Liverpool mencetak lebih dari 100 gol berkat permainan ofensif. Bahkan, musim lalu hanya dalam tempo 18 menit, Liverpool mampu unggul 4-0 dari Arsenal sebelum mengakhiri pertandingan dengan skor telak 5-1. Musim ini, permainan “The Reds” mengalami penurunan dan minim kreativitas. Saat melawan Basel, pertandingan yang harus dimenangi oleh Liverpool, Rodgers justru memilih empat gelandang tengah seperti Gerrard, Lucas, Joe Allen, dan Jordan Henderson. Hasilnya, tim minim ide, dinamika, dan pergerakan tanpa bola.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya