Kenaikan Konsumsi Pertamax Perlu Diantisipasi

BPH Migas menyebutkan enam persen masyarakat pindah menggunakan BBM non subsidi jenis Pertamax setelah harga BBM bersubsidi dinaikkan.

oleh Pebrianto Eko WicaksonoDiterbitkan 02 Desember 2014, 10:00 WIB
Ilustrasi Perusahaan Minyak dan Gas Pertamina

Liputan6.com, Jakarta - Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) non subsidi jenis Pertamax meningkat pasca kenaikan harga BBM bersubsidi harus diantisipasi. Salah cara bisa dilakukan dengan menambah kilang.

Analis Energi dari Bower Group Asia, Rangga R. Fadilla mengatakan, antisipasi yang dilakukan adalah  menambah kapasitas kilang dan meningkatkan kehandalannya. Hal itu membuat minyak mentah dapat diolah di dalam negeri.

"Harusnya ada penambahan kilang," kata Rangga, saat berbincang dengan Liputan6.com, di Jakarta, Selasa (2/12/2014).

Rangga mengungkapkan, konsumsi Pertamax yang meningkat saat ini akan mempengaruhi neraca perdagangan. Hal itu karena impor minyak khususnya Pertamax bertambah untuk memenuhi permintaan masyarakat. Namun karena harga minyak yang sedang turun, pengaruh terhadap neraca perdagangan tidak begitu besar. "Peningkatan ekspor tapi tidak signifikan, memang berpengaruh pada neraca perdagangan," tutur Rangga.

Badan Pengatur Kegaiatan Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat 6 persen masyarakat pindah menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi dari BBM bersubsidi pasca kenaikan harga BBM bersubsidi.

Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Sommeng mengatakan, peralihan konsumsi dari BBM bersubsidi ke non subsidi tersebut mengurangi konsumsi BBM bersubsidi. "Kemarin ada 4-6 persen pindah ke Pertamax," pungkas Andy. (Pew/Ahm)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya