Salah Pilihan, Tikuspun Menyesal

Di masa depan, para peneliti merencanakan untuk mempelajari bagaimana penyesalan membentuk cara pembuatan keputusan pada manusia.

oleh Alexander Lumbantobing diperbarui 09 Jun 2014, 17:58 WIB
Di masa depan, para peneliti merencanakan untuk mempelajari bagaimana penyesalan membentuk cara pembuatan keputusan pada manusia.

Liputan6.com, Minneapolis Dalam hidupnya, manusia seringkali melakukan kesalahan pembuatan keputusan dan merasa menyesal. Ada saja manusia yang tidak menyesali kesalahan-kesalahan pembuatan keputusan dalam hidupnya itu dan malah kalah daripada hewan tikus yang terbukti bisa merasa penyesalan.

Sebagaimana dikutip dari Nature World News, 9 Juni 2014, dilaporkan bahwa selama ini penyesalan atas suatu kesempatan yang tersia-siakan dianggap sebagai suatu ciri yang hanya ada pada manusia. Namun demikian, suatu penelitian oleh para peneliti University of Minnesota menemukan bahwa tikus juga bisa menyesal.

Melalui suatu edaran pers, tertulis “Penyesalan adalah pengakuan bahwa kamu telah melakukan kesalahan, yaitu bahwa jika kamu melakukan hal yang lain, kamu akan jadi lebih baik.” Demikian kata David Redish, Ph.D., seorang profesor ilmu syaraf di Jurusan Ilmu Syaraf, University of Minnesota.

“Bagian yang rumit dalam penelitian ini adalah memisahkan penyesalan dari kekecewaan. Kekecewaan adalah ketika berbagai hal tidak sebaik yang diharapkan. Kunci pembedaan dua hal ini adalah dengan membiarkan tikus-tikus memilih apa yang dilakukannya.”

Penelitian ini tidak hanya menunjukkan bahwa tikus-tikus mampu merasakan emosi yang rumit, semisal penyesalan, tapi juga membantu para ilmuwan untuk mengerti kecakapan pembuatan keputusan pada manusia.

Untuk keperluan penelitian ini, para peneliti menempatkan empat ekor tikus dalam ujian yang disebut “Restaurant Row.”

Tikus-tikus itu disuguhi aneka rupa makanan dalam sebuah “restoran,” namun diberi waktu beberapa detik untuk membuat suatu pilihan, yang berarti tikus-tikus itu seringkali memilih makanan yang buruk daripada yang baik. Tikus-tikus itu dipasangi elektroda yang membantu para peneliti memantau kegiatan otak hewan-hewan tersebut.

Suatu kawasan dalam otak yang disebut korteks orbitofrontal (orbitofrontal cortex) terlibat dalam proses pembuatan keputusan pada manusia. Bagian otak ini membuat manusia ‘merasakan’ bedanya emosi yang menyenangkan dari yang tidak menyenangkan.

“Pada manusia, suatu bagian yang disebut korteks orbitofrontal menjadi giat selagi ada penyesalan. Kami menemukan bahwa setelah menyadari telah melakukan kesalahan, muncul petunjuk-petunjuk di korteks orbitofrontal terkait dengan kesempatan yang tersia-siakan itu,” kata Redish.

“Menariknya, korteks ortbitofrontal tikus menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan tikus itu, bukannya kepada hasil yang telah terlewati. Hal ini masuk akal karena kamu tidak menyesali sesuatu yang tidak kamu dapatkan, tapi menyesali hal yang tidak kamu lakukan,” lanjutnya.

Seperti dilaporkan National Geographic, suatu penelitian sebelumnya menunjukan bahwa orang-orang yang memiliki kerusakan korteks orbitafrontal tidak menunjukan penyesalan.

Di masa depan, para peneliti merencanakan untuk mempelajari bagaimana penyesalan membentuk cara pembuatan keputusan pada manusia.

Penelitan ini diterbitkan dalam jurnal Nature Neuroscience.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya