Transplantasi Wajah, Solusi Pasien Bermuka Cacat

Transplantasi wajah biasanya menjanjikan pasien yang mengalami cacat di wajahnya setelah mengalami kecelakaan.

oleh Melly Febrida diperbarui 01 Mei 2014, 08:00 WIB
(Foto: Livescience.com)

Liputan6.com, Jakarta Transplantasi tak hanya bisa dilakukan di organ dalam manusia. Para dokter juga menawarkan transplantasi wajah . Cara ini biasanya menjanjikan pasien yang mengalami cacat di wajahnya setelah mengalami serangan hewan, kebakaran, penembakan, dan insiden mengerikan lainnya.

Tetapi, prosedur tersebuh masih dalam masa pertumbuhan dan tak sedikit yang mengkritiknya. Biayanya pun masih tergolong mahal yakni US$ 300 ribu atau sekitar Rp 3 miliar dan tak ditanggu perusahaan asuransi.

Operasi transplantasi wajah ini menimbulkan dilema etika karena bukan seperti transplantasi hati. Sejak tahun 2005, sudah dilakukan 28 transplantasi wajah total atau parsial di seluruh dunia. Seperti yang dilakukan dokter untuk memulihkan hidung wanita Prancis dan bibirnya yang dimakan labrador kesayangannya.

Dalam tinjauan ulang dari 28 kasus, sekelompok ahli bedah plastik dan rekonstruksi mengatakan, transplantasi wajah harusnya ditawarkan ke lebih banyak pasien selama mereka memenuhi kriteria tertentu. Apalagi operasi dibilang relatif aman .

Risiko Transplantasi


Hampir setiap jenis transplantasi, risiko terbesarnya adalah penolakan. Untuk mencegah sistem kekebalan tubuh menyerang bagian tubuh yang baru, pasien transplantasi sering memakai obat imunosupresif yang intensif, yang pada gilirannya membuat pasien lebih rentan terhadap penyakit dan infeksi.

Seperti dilansir LiveScience, Rabu (30/4/2014), dari 22 pria dan wanita yang menjalani transplantasi wajah mengalami komplikasi dari infeksi dan setidaknya mengalami satu periode penolakan. Namun, tak satupun yang mengalami penolakan organ kronis dan jaringan baru.

Menurut The Lancet pada 27 Apri, dari tiga pasien yang meninggal sejak transplantasi, penyebab kematiannya tak terkait langsung dengan operasi, melainkan infeksi yang tak berhubungan atau kanker. Namun, sebagian besar orang yang menerima transplantasi wajah, terutama tujuh pasien di Amerika Serikat, mengaku bisa berbicara, mengunyah dan menyalakan kembali kehidupan sosial mereka.

"Sejauh ini, faktor utama dalam keberhasilan transplantasi wajah dengan memilih pasien yang paling mungkin memperoleh manfaat dari dan berhasil melalui prosedur medis bedah yang paling kompleks," kata Dr Eduardo Rodriguez, ketua Departemen Bedah Plastik di NYU Langone Medical Center.

Rodriguez merupakan bagian tim yang melakukan transplantasi wajah pada 2012 terhadap Richard Lee Norris, seorang pria berusia 37 tahun dari tahun dari Hillsville, yang mengalami kecelakaan senjata hampir dua dekade lalu. 18 Bulan setelah operasi, Norris melaporkan mengalami peningkatan dalam kualitas hidupnya, citra tubuh, dan gejala depresi.

"Orang-orang yang secara sukarela menjalani prosedur ini melakukannya untuk alasan kesehatan dan psikologis yang sangat serius," kata Dr Rodriguez.

Menurutnya, tanpa transplantasi wajah banyak orang berisiko serius mengalami depresi berat bahkan berpotensi bunuh diri.

Rodriguez mengatakan, transplantasi wajah bukan prosedur yang menyalamatkan jiwa. Namun, operasi ini dikritik karena bisa membuat orang sehat berisiko seumur hidup mengalami imunosupresi, yakni mencakup infeksi, kanker, dan kematian. Para dokter mengatakan, dilema etika ini bisa dihindari asalkan pasien yang dipilih operasi itu tepat.

Kandidat yang terbaik untuk transplantasi wajah merupakan pasien yang memahami konsekunsi dari imunosupresi dan termotivasi serta berkomitmen mematuhi rehabilitasi usai operasi. Terlebih lagi, pasien ini harus memiliki pendukung sosial yang kuat. Teman dan keluarga bisa membantu mereka mengatasi tantangan , mulai dari paparan media untuk adaptasi citra tubuh.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya