Pencalonan Boediono Memicu Pro-Kontra

Terpilihnya Gubernur BI sebagai cawapres pendamping SBY dalam pilpres mendatang memicu pro-kontra. Penunjukan mantan Menteri Keuangan era Megawati Sukarnoputri ini juga dicap berbau neoliberalisme.

oleh Liputan6Diterbitkan 17 Mei 2009, 19:47 WIB

Liputan6.com, Bandung: Penolakan terhadap pencalonan Boediono sebagai calon wakil presiden atau cawapres, hingga Ahad (17/5), masih terus berlangsung di berbagai daerah. Padahal, Boediono sudah menjelaskan berkali-kali soal paham neoliberalisme dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam pidato pendeklarasiannya sebagai cawapres pendamping Susilo Bambang Yudhoyono [baca: Boediono: Saya Sedih Dituduh Neoliberal].

Sejumlah partai politik pendukung Partai Demokrat juga sempat meradang. Bahkan, para tokoh parpol nasional pun menuding Boediono sebagai antek-antek asing untuk menguasai perekonomian nasional.

Sementara aksi penolakan masih terjadi, dukungan terhadap pasangan yang mempunyai jargon SBY-Berbudi itu tetap mengalir. Malahan para ekonom berpendapat pilihan SBY sudah tepat. Pemilihan Boediono, figur yang terlepas dari pengaruh parpol, adalah sebuah keuntungan.

Pro-kontra memang biasa terjadi. Tetapi pilihan SBY telah diambil. Tinggal Anda sebagai pemilih akan menentukan, apakah pasangan SBY-Boediono layak dipilih dalam pemilihan presiden Juli mendatang?(IAN/Tim Liputan 6 SCTV)

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya