Liputan6.com, Bandung: Penolakan terhadap pencalonan Boediono sebagai calon wakil presiden atau cawapres, hingga Ahad (17/5), masih terus berlangsung di berbagai daerah. Padahal, Boediono sudah menjelaskan berkali-kali soal paham neoliberalisme dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam pidato pendeklarasiannya sebagai cawapres pendamping Susilo Bambang Yudhoyono [baca: Boediono: Saya Sedih Dituduh Neoliberal].
Sejumlah partai politik pendukung Partai Demokrat juga sempat meradang. Bahkan, para tokoh parpol nasional pun menuding Boediono sebagai antek-antek asing untuk menguasai perekonomian nasional.
Advertisement
Sementara aksi penolakan masih terjadi, dukungan terhadap pasangan yang mempunyai jargon SBY-Berbudi itu tetap mengalir. Malahan para ekonom berpendapat pilihan SBY sudah tepat. Pemilihan Boediono, figur yang terlepas dari pengaruh parpol, adalah sebuah keuntungan.
Pro-kontra memang biasa terjadi. Tetapi pilihan SBY telah diambil. Tinggal Anda sebagai pemilih akan menentukan, apakah pasangan SBY-Boediono layak dipilih dalam pemilihan presiden Juli mendatang?(IAN/Tim Liputan 6 SCTV)