Liputan6.com, Banjarmasin: Satu lagi jenazah korban kapal Mandiri Borneo yang tenggelam di Muara Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Senin silam, ditemukan tim Search and Rescue (SAR). Anak buah kapal tugboat Mandiri Borneo itu bernama Muhammad Nasir. Istri korban yang menunggu di dermaga langsung pingsan sewaktu melihat kedatangan jasad suaminya.
Dengan demikian, hingga Kamis (13/12), tim SAR telah menemukan dua korban dari empat ABK, yaitu Muhammad Nasir dan Ropi. Dua korban lainnya, Muhammad Asdar dan Mujianto diduga masih terperangkap di dalam kapal yang karam. Istri mereka bahkan ikut menunggu pencarian regu penyelamat dari bangkai kapal.
Advertisement
Menurut Kepala Direktorat Polisi Air Kepolisian Daerah Kalsel Ajun Komisaris Besar Polisi H. Sunaryo, tugboat Mandiri Borneo tenggelam saat menarik sebuah kapal tongkang bermuatan ribuan ton batu bara milik PT Arutmin dari Klanis, Kalimantan Tengah.
Senin silam, kapal Mandiri Borneo tenggelam di Muara Banjarmasin karena tertabrak kapal tongkang yang ditariknya. Ketika berada di Muara Banjarmasin, tongkang yang ditarik justru menabraknya dari belakang hingga terbalik. Tujuh dari 11 ABK berhasil selamat dan empat lainnya tenggelam. Sejauh ini tim SAR masih menggelar pencarian di lokasi.
Sementara di Kepulauan Riau, seorang ABK MV Bistari Baiduri bernama Indra Gunawan ditemukan dalam kondisi selamat. Kapal kargo berbendera Malaysia itu tenggelam di perairan Pulau Tambelan, Kepulauan Riau, Ahad silam. Sedangkan sembilan ABK lainnya yang juga berkebangsaan Indonesia, termasuk nakhoda bernama Asharudin Amir, sampai hari ini masih dilaporkan hilang.
Indra Gunawan diselamatkan nelayan setelah terkatung-katung di laut hanya dengan menggunakan pelampung. Kapal kargo Bistari Baiduri yang mengangkut 10 ABK berkebangsaan Indonesia itu dihantam ombak besar dan tenggelam di perairan Pulau Tambelan, saat berlayar dari Pulau Penang menuju Tawau, Malaysia, dengan membawa muatan gula dan batangan besi.
Tenggelamnya MV Bistari Baiduri diketahui setelah salah seorang ABK memberikan sinyal pemancar tanda bahaya yang diterima petugas penjaga pantai Singapura. Adapun tim SAR Tanjungpinang, Kepulauan Riau, hingga kini masih mencari sembilan ABK yang dinyatakan hilang tersebut. Berikut nama mereka; Asharudin Amir (kapten kapal), Sudiman (chief officer), Agus Triono (chief engine), Dedek Haryono (ABK), Doni Fatulah (ABK), Fauzun Mulakin (ABK), Abdul Kadir (ABK), Iman Suroso (ABK), dan Tanrisikin (ABK).
Sementara di Taiwan, regu penyelamat negara tersebut sampai saat ini masih mencari 26 dari 28 warga Indonesia yang menjadi ABK kapal Mezzanine yang karam. Sejauh ini baru dua ABK yang diketahui nasibnya. Pertama adalah Hary Bakarbesi yang ditemukan selamat. ABK yang kedua adalah Jumali, namun didapati sudah tak bernyawa [baca: Keluarga ABK Mezzanine Minta Pencarian Diteruskan].
Kapal Mezzanine tenggelam pada 27 November silam di perairan utara Taiwan, setelah dihantam topan Mitag. Kapal yang membawa bijih besi tersebut sedang dalam perjalanan dari Kalimantan menuju Tianjin, Cina. Beberapa hari silam, regu penyelamat menemukan satu jenazah di sekitar lokasi, Namun tim SAR Taiwan belum dapat memastikan jasad tersebut merupakan ABK Indonesia. Ini lantaran tubuh dan pakaiannya sulit dikenali.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)