Salma, Busana Muslimah Buat Boneka

Berangkat dari kesadaran akan kecenderungan anak-anak yang meniru lingkungan, Sukmawati Suryaman ingin memberi pesan moral lewat mainan yang bersifat mendidik. Diharapkan anak-anak tidak sekadar bermain tapi juga mendapatkan keteladanan.

oleh Liputan6Diterbitkan 15 Oktober 2007, 09:11 WIB

Liputan6.com, Depok: Bermain adalah dunia anak-anak. Saat ini begitu banyak jenis permainan dapat ditemui di pasaran. Namun tentunya para orangtua tidak hanya membelikan mainan yang bersifat menghibur tapi juga mendidik. Salah satunya adalah boneka Salma. Melalui boneka ini diharapkan anak-anak tidak sekadar bermain tapi juga mendapatkan keteladanan sekaligus pesan moral.

Dunia bermain anak-anak ternyata telah memberi ispirasi kepada seorang perempuan kelahiran Ciamis, 6 Januari 1979 untuk menciptakan peluang usaha. Tak hanya membuka lapangan pekerjaan, usaha yang terletak di Jalan Garuda VI Blok D2 nomor 6, Sawangan, Depok, ini juga memberi pesan moral kepada anak-anak lewat mainan yang mendidik.

Adalah Sukmawati Suryaman, warga Sawangan, Depok, Jawa Barat, yang membuka usaha pembuatan baju boneka berlabel Salma. Ide awal bermula ketika di masa kuliah dia melihat salah seorang keponakannya bermain boneka. Nuraninya langsung tergelitik karena boneka-boneka tersebut mengenakan pakaian minimalis. Saat itu dia baru terpikir mengapa tidak pernah menemukan pakaian berbaju sopan dan tertutup. Padahal anak memiliki kecenderungan meniru baik dari lingkungan maupun mainan.

Hingga akhirnya dia benar-benar merealisasikan keinginannya membuat pakaian boneka yang dianggap sopan. Proses awal pembuatan baju dimulai dengan membuat desain terlebih dahulu. Anggota keluarga seperti kakak, ibu, bahkan suami turut menyumbang ide model pakaian. Setelah ada desain, tahap selanjutnya adalah proses pemilihan bahan.

Bahan itu kemudian dikombinasikan dengan warna yang kira-kira cocok dengan bahan-bahan tersebut. Setelah pemilihan bahan, dilanjutkan dengan pembuatan pola. Pola lalu dicetak ke kain yang sudah dipilih untuk kemudian digunting dan dijahit.

Sampai saat ini, boneka Salma memiliki lima seri baju yang terdiri dari baju malam, kasual, kebaya, batik, dan mukena. Kendati sudah menelurkan lima seri pakaian, Sukma mengaku sumber daya manusia menjadi faktor utama kendala dalam menjalankan usaha ini. Sebab, dibutuhkan ketelatenan untuk bisa membuat pakaian-pakaian versi mini ini. Sedangkan produk boneka sendiri, Sukma masih memperolehnya dengan impor karena belum tersedia di Indonesia.

Persaingan di pasaran membuat Sukma mencari celah untuk tetap bisa menjalankan usahanya. Salah satu kiat dalam menghadapinya masalah ini adalah dengan menjaga kualitas. Istri dari Andy Prayitno ini juga terus berinovasi menciptakan model baru mengikuti trend yang ada. Yang tidak boleh ditinggalkan adalah belajar dan terus belajar untuk menambah pengetahuan, seperti membuat payet, benang pita, ataupun bordir untuk diaplikasikan pada boneka yang dibuat.(YNI/Julianus Kriswantoro)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya