Liputan6.com, Magelang: Belajar di kawasan sejuk Lembah Tidar, Magelang, Jawa Tengah, tentu menyenangkan. Di tempat inilah berdiri Sekolah Menengah Atas Taruna Nusantara, sekolah hasil kerja sama yayasan bentukan Departemen Pertahanan, Markas Besar TNI, dan Taman Siswa. Gedungnya megah dan lahannya cukup luas.
Pola belajar di sekolah ini berbeda dari kebanyakan SMA lain. Perbedaan sudah terlihat saat rekrutmen siswa baru. Pengelola mencari siswa-siswa terbaik dengan prestasi akademik tinggi dari seluruh Tanah Air. Setiap tahun hanya terjaring 300 siswa, tapi pendaftar mencapai dua ribu orang. Padahal biayanya tidak murah, sekitar Rp 1,75 juta per bulan. Tapi untuk siswa berprestasi, apalagi dari kalangan tak mampu, tidak perlu khawatir karena tersedia beasiswa.
Pola pengasuhan juga berbeda. Ada cara-cara militer yang diadopsi. Melanggar displin bisa mendapat hukuman fisik, tapi tanpa kontak fisik. Tidak cuma yang berbau militer. Kemampuan otak juga diasah. Karena itu situasi belajar di kelas harus kondusif. Jangan heran jika banyak siswa berprestasi, baik nasional maupun internasional lahir dari sini.
Belajar kemudian masih berlanjut di asrama, tempat mereka hidup sehari-hari. Misalnya dengan belajar bersama atau latihan kedisiplinan. Kamar-kamar mereka juga tampak bersih dan rapi. Jangan coba-coba melanggar aturan sebab sanksi mulai teguran hingga hukuman fisik akan mendera.
Tapi disiplin tidak berarti menghilangkan jiwa muda para siswa. Bercengkrama dengan teman menjadi rutinitas saat istirahat sekolah. Dengan segala kelebihannya, sekolah ini memang mengandung harapan besar melahirkan kader-kader pembangunan nasional yang handal.
Masih bercerita tentang sekolah. Di Serang, Banten, ada sekolah asrama Nurul Fikri yang mencakup pula sekolah menengah pertama dan SMA. Berbagai prestasi membanggakan telah ditorehkan sekolah Islam ini. Antara lain terpilih mengikuti Olimpiade Astronomi di Mumbay, India, dan siswanya meraih medali perak dalam Olimpiade Fisika tingkat nasional.
Sekolah ini menerapkan metode belajar aktif dua arah atau partisipatif. Memadukan kurikulum Departemen Pendidikan Nasional dan sistem pesantren, siswa-siswa dibekali pelajaran ekstra kurikuler seperti membatik. Selain itu, sekolah dilengkapi pula dengan berbagai alat peraga serta fasilitas belajar lain.
Sebagai sekolah Islam, SMA Nurul Fikri sangat memperhatikan pelajaran agama bagi para siswanya. Mereka diberi pelajaran akidah, fikih, dan akhlak, disamping tentunya bahasa Arab. Semua itu dimaksudkan agar selain unggul dalam ilmu pengetahuan, siswa juga memiliki bekal moral keagamaan yang cukup saat mereka terjun ke masyarakat kelak.
Di sekolah yang terletak 50 kilometer dari pusat Kota Serang, seluruh siswa maupun guru tinggal di asrama. Dengan tinggal di asrama, secara tak langsung para siswa juga belajar hidup mandiri. "Betah, lebih enak dibanding sekolah di Jakarta," komentar Yanti Prilia, siswa kelas satu.
Saat ini jumlah siswa Sekolah Menengah Pertama dan SMA mencapai 422 orang, kebanyakan mereka dari wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Namun untuk belajar di sini biayanya cukup besar. Siswa dikenai biaya masuk Rp 9 juta lebih dan iuran bulanan hingga Rp 1 juta.
Di Makassar, Sulawesi Selatan, ada sekolah setingkat SMA yang menyiapkan pelaut-pelaut tangguh. Sekolah di bawah naungan Departemen Perhubungan ini memang menyiapkan kader-kader pelaut yang dapat diandalkan. Inilah cerita dari sekolah kejuruan yang disebut Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran atau BP2 IP.
Didirikan dengan bantuan Pemerintah Jepang pada 1974, sekolah ini awalnya dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pelaut yang akan dipekerjakan di kapal-kapal Jepang. Tidaklah heran jika fasilitas pendidikan di sekolah ini cukup lengkap.
Pada 1980, pengelolaan sekolah diserahkan sepenuhnya kepada Pemerintah Indonesia. Melalui Dephub kala itu, sekolah ini pun diubah menjadi Balai Pendidikan dan Latihan Pelayaran Daerah (BPLPD), yang kemudian diubah menjadi BP2 IP pada 1998.
Murid-murid di sekolah ini disebut taruna. Selain lulus tes jasmani dan rohani, tinggi badan taruna minimal 158 sentimeter. Lama belajar sekitar tiga tahun lima bulan. Sedangan jurusan yang dimiliki adalah jurusan nautika yang mempelajari masalah pengetahuan bahari dan navigasi serta jurusan teknika yang mempelajari pengetahuan mesin kapal.
Dengan ijazah yang diakui internasional, pelaut tingkat dasar yang dihasilkan sekolah ini semestinya memiliki kesempatan kerja yang cukup terbuka. Tapi terbatasnya perusahaan pelayaran di Tanah Air membuat jumlah taruna di sekolah ini terus menurun sejak lima tahun lalu. Padahal prospek pekerjaan untuk lulusan sekolah ini pada masa mendatang masih sangat terbuka.
Pada 2009 nanti, kapal-kapal domestik hingga kapal pelayaran transportasi akan diberdayakan menerima siswa lulusan sekolah ini. Sementara negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Jepang tidak lagi memiliki sekolah yang menghasilkan pelaut tingkat dasar.(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)
Pola belajar di sekolah ini berbeda dari kebanyakan SMA lain. Perbedaan sudah terlihat saat rekrutmen siswa baru. Pengelola mencari siswa-siswa terbaik dengan prestasi akademik tinggi dari seluruh Tanah Air. Setiap tahun hanya terjaring 300 siswa, tapi pendaftar mencapai dua ribu orang. Padahal biayanya tidak murah, sekitar Rp 1,75 juta per bulan. Tapi untuk siswa berprestasi, apalagi dari kalangan tak mampu, tidak perlu khawatir karena tersedia beasiswa.
Pola pengasuhan juga berbeda. Ada cara-cara militer yang diadopsi. Melanggar displin bisa mendapat hukuman fisik, tapi tanpa kontak fisik. Tidak cuma yang berbau militer. Kemampuan otak juga diasah. Karena itu situasi belajar di kelas harus kondusif. Jangan heran jika banyak siswa berprestasi, baik nasional maupun internasional lahir dari sini.
Belajar kemudian masih berlanjut di asrama, tempat mereka hidup sehari-hari. Misalnya dengan belajar bersama atau latihan kedisiplinan. Kamar-kamar mereka juga tampak bersih dan rapi. Jangan coba-coba melanggar aturan sebab sanksi mulai teguran hingga hukuman fisik akan mendera.
Tapi disiplin tidak berarti menghilangkan jiwa muda para siswa. Bercengkrama dengan teman menjadi rutinitas saat istirahat sekolah. Dengan segala kelebihannya, sekolah ini memang mengandung harapan besar melahirkan kader-kader pembangunan nasional yang handal.
Masih bercerita tentang sekolah. Di Serang, Banten, ada sekolah asrama Nurul Fikri yang mencakup pula sekolah menengah pertama dan SMA. Berbagai prestasi membanggakan telah ditorehkan sekolah Islam ini. Antara lain terpilih mengikuti Olimpiade Astronomi di Mumbay, India, dan siswanya meraih medali perak dalam Olimpiade Fisika tingkat nasional.
Sekolah ini menerapkan metode belajar aktif dua arah atau partisipatif. Memadukan kurikulum Departemen Pendidikan Nasional dan sistem pesantren, siswa-siswa dibekali pelajaran ekstra kurikuler seperti membatik. Selain itu, sekolah dilengkapi pula dengan berbagai alat peraga serta fasilitas belajar lain.
Sebagai sekolah Islam, SMA Nurul Fikri sangat memperhatikan pelajaran agama bagi para siswanya. Mereka diberi pelajaran akidah, fikih, dan akhlak, disamping tentunya bahasa Arab. Semua itu dimaksudkan agar selain unggul dalam ilmu pengetahuan, siswa juga memiliki bekal moral keagamaan yang cukup saat mereka terjun ke masyarakat kelak.
Di sekolah yang terletak 50 kilometer dari pusat Kota Serang, seluruh siswa maupun guru tinggal di asrama. Dengan tinggal di asrama, secara tak langsung para siswa juga belajar hidup mandiri. "Betah, lebih enak dibanding sekolah di Jakarta," komentar Yanti Prilia, siswa kelas satu.
Saat ini jumlah siswa Sekolah Menengah Pertama dan SMA mencapai 422 orang, kebanyakan mereka dari wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Namun untuk belajar di sini biayanya cukup besar. Siswa dikenai biaya masuk Rp 9 juta lebih dan iuran bulanan hingga Rp 1 juta.
Di Makassar, Sulawesi Selatan, ada sekolah setingkat SMA yang menyiapkan pelaut-pelaut tangguh. Sekolah di bawah naungan Departemen Perhubungan ini memang menyiapkan kader-kader pelaut yang dapat diandalkan. Inilah cerita dari sekolah kejuruan yang disebut Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran atau BP2 IP.
Didirikan dengan bantuan Pemerintah Jepang pada 1974, sekolah ini awalnya dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pelaut yang akan dipekerjakan di kapal-kapal Jepang. Tidaklah heran jika fasilitas pendidikan di sekolah ini cukup lengkap.
Pada 1980, pengelolaan sekolah diserahkan sepenuhnya kepada Pemerintah Indonesia. Melalui Dephub kala itu, sekolah ini pun diubah menjadi Balai Pendidikan dan Latihan Pelayaran Daerah (BPLPD), yang kemudian diubah menjadi BP2 IP pada 1998.
Murid-murid di sekolah ini disebut taruna. Selain lulus tes jasmani dan rohani, tinggi badan taruna minimal 158 sentimeter. Lama belajar sekitar tiga tahun lima bulan. Sedangan jurusan yang dimiliki adalah jurusan nautika yang mempelajari masalah pengetahuan bahari dan navigasi serta jurusan teknika yang mempelajari pengetahuan mesin kapal.
Dengan ijazah yang diakui internasional, pelaut tingkat dasar yang dihasilkan sekolah ini semestinya memiliki kesempatan kerja yang cukup terbuka. Tapi terbatasnya perusahaan pelayaran di Tanah Air membuat jumlah taruna di sekolah ini terus menurun sejak lima tahun lalu. Padahal prospek pekerjaan untuk lulusan sekolah ini pada masa mendatang masih sangat terbuka.
Pada 2009 nanti, kapal-kapal domestik hingga kapal pelayaran transportasi akan diberdayakan menerima siswa lulusan sekolah ini. Sementara negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Jepang tidak lagi memiliki sekolah yang menghasilkan pelaut tingkat dasar.(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)