Wapres meminta adanya koordinasi yang baik antara Polri dan tokoh agama. Kalla menambahkan, menyambut gembira pernyataan ulama Indonesia yang siap untuk memerangi ideologi yang salah, khususnya pemahaman keliru tentang jihad. Dengan demikian, menurut Kalla, polisi bisa mengurangi bebannya untuk menjalankan perang fisik terhadap terorisme.
Sementara anggota Jamaah Islamiyah (JI), Nasir Abbas menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh Islam dan akademisi di Kampus Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pertemuan membahas tentang aksi terorisme di Tanah Air dan JI ini di antaranya dihadiri mantan Panglima Laskar Jihad Jafar Umar Thalib.
Advertisement
Menurut Nasir, aksi terorisme di Indonesia memang melibatkan orang yang sebelumnya aktif dalam JI. Kini, para pelaku tidak lagi menggunakan nama JI. Sebab, tambah Nasier, JI tidak pernah membenarkan pembunuhan warga sipil. Namun sebagian anggotanya, termasuk Doktor Azahari bin Husin dan Nordin Mohammad Top tidak mengindahkan hal itu. Lantaran itu Nasir memilih keluar dari keanggotaan JI.
Hal senada juga diungkapkan Jafar. Dia tidak setuju dengan pengertian jihad yang diyakini oleh gembong teroris Azahari dan Noordin. Menurut mereka, teror itu sebagai peringatan bagi kaum kafir serta ulama dan orang yang memusuhi Islam [baca: Pesan-Pesan Terakhir Pengebom Jimbaran-Kuta]. Menurut Jafar, aksi kekerasan yang dilakukan mereka telah menyimpang dari ajaran Islam.(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)