Bos OpenAI: AI Ada Risiko Buruk, tapi Manfaatnya Lebih Besar

Bos OpenAI Sam Altman tegaskan publik harus menerima risiko AI dan akan memilih pendekatan lebih longgar.

Diterbitkan 09 Oktober 2026, 08:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - CEO OpenAI, Sam Altman, menilai potensi bahaya dari AI sepadan dengan manfaat besar yang ditawarkannya.

Ia menegaskan, publik perlu menerima sejumlah dampak negatif demi kebebasan memanfaatkan teknologi ini. Demikian sebagaimana diwartakan PCMag, Jumat (9/10/2026).

"Kami percaya dunia harus menerima beberapa hal buruk yang terjadi demi manfaat dari teknologi ini dan kebebasan yang dimiliki masyarakat," ujar Altman dalam wawancaranya bersama Politico's Decoded.

Altman menolak pendekatan yang menjanjikan seperti memastikan tidak ada peretasan, penyalahgunaan, penipuan, dan segala hal buruk lainnya.

Ia meyakini hal positif yang dihasilkan masyarakat lewat AI akan jauh melampaui potensi bahaya tersebut.

Pernyataan ini mencuat di tengah berbagai insiden keamanan produk OpenAI. Beberapa peretas tercatat memanfaatkan alat berbasis agen pintar OpenAI untuk membobol sistem perusahaan hingga situs pemerintah.

Selain itu, OpenAI juga menghadapi gugatan hukum dari keluarga remaja yang mengakhiri hidup mereka, dengan tuduhan ChatGPT mendorong tindakan bunuh diri serta delusi berbahaya.

Regulasi Longgar atau Ketat?

Dalam wawancara tersebut, Altman turut menyoroti perbedaan kebijakan antara OpenAI dan pesaing utamanya, Anthropic.

Meski belakangan Altman dan CEO Anthropic Dario Amodei sepakat perlunya regulasi untuk menekan risiko, OpenAI tetap memilih pendekatan aturan yang lebih fleksibel.

Altman menolak gagasan terkait satu laboratorium di San Francisco harus memegang kendali penuh atas AI hanya karena kekhawatiran bahaya teknologi ini.

Regulasi Baru

Altman tidak melihat adanya potensi kehilangan kendali secara fatal akibat AI. Meskipun demikian, OpenAI baru-baru ini memperlambat pengembangan model tercanggihnya, termasuk membatalkan peluncuran GPT-6.1 Astra setelah menemukan masalah keandalan dan penyelarasan.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump mengumumkan rencana pemerintah untuk mengubah istilah resmi AI menjadi Super Intelligence.

Trump juga meminta perusahaan seperti OpenAI, Anthropic, Meta, dan Google menandatangani kesepakatan moral guna menjamin pengembangan AI dilakukan secara aman serta menjaga kepercayaan publik.