Telkom Dorong Efisiensi Jaringan, Aset Fiber Dialihkan ke Infranexia

Telkom resmi memisahkan bisnis dan aset wholesale fiber optic ke Infranexia. Langkah ini menjadi bagian penting strategi Telkom 2030 untuk efisiensi, monetisasi aset, dan percepatan digitalisasi Indonesia.

Diterbitkan 19 Desember 2025, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk resmi menandatangani akta pemisahan sebagian bisnis dan aset wholesale fiber optic tahap I ke anak perusahaannya, PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) atau dikenal sebagai Infranexia.

“Kita baru saja menandatangani yang kita sebut sebagai akta pemisahan sebagian dari aset fiber kita ke anak usaha kami. Atau kita sebutnya sebagai operating company, yaitu Telkom Infrastruktur Indonesia,” ungkap Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemandji dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (18/12/2025).

Pemisahan aset fiber ini bubkan keputusan mendadak. Strategi tersebut telah dirancang Telkom sejak lima tahun lalu melalui road map transformasi 5 Gold Moves. Dalam skema ini, Telkom bertransformasi menjadi holding, sementara aktivitas operasional dibagi ke dalam empat pilar bisnis utama.

“Adapun pemisahan aset ini juga sebagai bagian bagaimana kami memenuhi tujuan pemerintah untuk digitalisasi,” jelas Seno. "Dengan efisiensi dari aset, efisiensi dari CapEx, dan maksimalisasi dari termasuk monetisasi dari aset yang kami miliki. Sehingga dengan efisiensi tersebut kami bisa menjangkau fibrilisasi Indonesia Insya Allah secara lebih luas lagi."

Transformasi ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Telkom disebut Telkom 30 (Thirty). Telkom 30 dirancang untuk memperkuat daya saing perusahaan melalui fokus pada kekuatan fundamental.

Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menegaskan kekuatan fundamental menjadi kunci dalam fase transformasi ini. "Kekuatan fundamental ini berupa operasi excellence, service excellence. Kemudian yang kedua optimalisasi aset strategis, yang salah satunya Infranexia ini. Dimana kita mengoptimalkan aset digital kita yaitu fiber optic,” ujar Dian.

Selain itu, transformasi ini memperkuat portfolio bisnis guna mencapai nilai berkelanjutan yang nantinya akan melakukan berbagai macam corporate affairs agar entity yang ada sesuai dengan core strength Telkom.

“Oleh karena itu, Infranexia ini dihadirkan sebagai entitas Telkom Group yang secara khusus mengonsolidasikan, mengelola dan menghubungkan bisnis wholesale fiber connectivity,” ungkapnya.

Kehadiran Infranexia dinilai akan mempercepat realisasi strategi transformasi Telkom 2030. Melalui hal ini, Telkom dapat meningkatkan efisiensi operasional pengelolaan jaringan siber dan juga menghadirkan model bisnis wholesale. Telkom Group juga diarahkan untuk memperkuat ekosistem sebagai penyedia utama konektivitas yang inklusif dan berdaya saing global.

Valuasi dan Fokus Bisnis Infranexia

Pada tahap awal spin-off, Telkom membagi sekitar 50 persen aset fiber dengan nilai buku sekitar Rp 35 triliun. Secara keseluruhan, nilai aset fiber Telkom diperkirakan mencapai Rp 90 triliun, dengan valuasi Infranexia yang diproyeksi berada di kisaran Rp 120 – 150 triliun.

Sementara di sisi bisnis, Infranexia akan fokus dengan dua segmen yaitu wholesale dan ISP dengan fokus utama dalam lima tahun ke depan akan terjadi efesiensi, lalu fokus dengan produk yang memiliki margin lebih besar.

“Kita juga memperhitungkan sekarang ini revenue-nya ada di angka sekitar 15 triliun, 14-15 triliun. Di tahun 2030 kita harapkan, kita sudah simulasikan revenue itu bisa ada di angka 40 triliunan,” ujar Direktur Nerwork Telkom, Nanang Hendarno,

Efesiensi dengan CapEx

Manajemen menegaskan bahwa efisiensi yang dimaksud dalam spin-off ini bukan pemangkasan modal belanja (CapEx), melainkan optimalisasi setiap investasi agar menghasilkan output yang lebih besar. Melalui pengelolaan singkat, desain jaringan, spesifikasi perangkat, hingga proses pengadaan yang diharapkan menjadi lebih efisien.

“Untuk langkah depan capeknya kira-kira sekitar Rp4,6 triliun di TIF ini menjadikannya untuk pembangunan infrastruktur, efisiensi network, dan penetrasi ke daerah-daerah yang masih belum ternilai oleh project itu,” jelas Nanang Hendarno.

“Pasti kita akan melakukan efisiensi secara bertahap dengan melakukan rekonfigurasi network, melakukan redesign, dan juga melakukan perubahan standarisasi yang dibutuhkan sehingga kita bisa kompetitif terhadap market,” sambungnya.

Saat ini, jaringan fiber Telkom telah menjangkau sekitar 80–90 persen wilayah Indonesia. Sisa sekitar 10 persen akan digarap secara bertahap berdasarkan prioritas bisnis dan potensi tambah nilai, termasuk mendukung pengembangan smart city, layanan 5G, dan konektivitas digital pemerintah.

Harapan Telkom

Dian berharap tahapan berikutnya dari pemisahan aset dapat terlaksana pada tahun depan. Setelah proses rampung, Telkom juga menargetkan untuk membuat nilai dari bisnis fiber optic dapat dijalankan di 2026, seiring dengan penguatan bisnis dan operasional.

“Kami harus berhati-hati, bagaimana memberikan pelayanan yang netral kepada semua pelanggan, atau client fiberco. Di mana kami juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan layanan juga yang tetap prima kepada pelanggan terbesarnya fiberco yaitu telkomsel,” tutup Dian.