Sukses

Survei Flourish Ventures Ungkap Kondisi Pekerja Independen di Masa Pandemi

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan modal ventura global Flourish Ventures merilis laporan yang mengevaluasi cara pekerja independen atau gig worker dalam ekonomi informal Indonesia dalam mengatasi pandemi Covid-19.

Contoh pekerja ini adalah pengemudi layanan ridesharing, penjual online, penyedia jasa rumah tangga dan kurir pengiriman.

Pada laporan berjudul The Digital Hustle: Gig Worker Financial Lives Under Pressure, Flourish Ventures menemukan sebagian besar pekerja independen ini terkena dampak besar akibat pandemi Covid-19. Ada 86 persen responden yang menyatakan penghasilan mereka berkurang.

"Dalam penurunan ekonomi akibat pandemi Covid-19, pekerja independen atau gig worker secara signifikan terkena dampaknya dan mereka tetap rentan mengalami kesulitan dalam hal finansial," tutur Managing Partner di Flourish Ventures, Tilman Ehrbeck dalam keterangan resmi.

Beberapa temuan laporan ini menyebutkan jumlah pekerja independen dengan penghasilan lebih dari Rp 3 juta bulan mengalami penurunan tajam. Selain itu, ada lonjakan besar dalam jumlah pekerja independen dengan penghasilan kurang dari Rp 1 juta, dari 8 persen pada Maret 2020 menjadi 55 persen pada Juni/Juli 2020.

"Ada 52 responden yang lebih khawatir tentang dampak Covid-19 pada mata pencaharian mereka (52 persen), serta ada sekitar 14 responden yang mengkhawatirkan hal tersebut berpengaruh pada kesehatan mereka," tulis laporan ini.

Lebih lanjut juga disebutkan pekerjaan yang memerlukan interaksi tatap muka lebih terkena dampaknya. Sementara penjual online atau pekerja rumah tangga, seperti asisten rumah tangga, tidak terlalu terdampak.

2 dari 3 halaman

Kondisi Pekerja Pria dan Wanita

Berdasarkan laporan ini pula, penurunan ekonomi ini sama-sama dialami oleh pekerja wanita dan pria di Indonesia. Adapun pekerjan independen di kota besar mengaku paling terkena dampaknya. Hal itu diungkap oleh 63 responden di kota besar yang kehilangan penghasilan, dibandingkan hanya 49 persen di kota lebih kecil.

"Hampir 60 persen responden mengatakan jika mereka kehilangan sumber penghasilan utama mereka, mereka tidak akan dapat mencukupi pengeluaran rumah tangga mereka dalam satu bulan tanpa meminjam uang," tulis laporan ini.

Riset ini, menurut Flourish Ventures, dilakukan agar dapat memahami cara perusahaan Financial Technology (Fintech) melayani para pekerja independen ini, termasuk individu atau usaha kecil yang mengalami kesulitan.

3 dari 3 halaman

Peluang bagi Perusahaan Fintech

Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sejumlah perusahaan fintech. Salah satunya adalah sebagai besar responden ini memiliki rencana menabung untuk masa depan sebagai tujuan nomor satu jangka pendek dan jangka panjang.

Selain itu, ada 66 persen responden yang khawatir apabila mereka jatuh sakit atau mengalami kecelakaan sehingga tidak mampu bekerja. Selain itu, ada pula 59 persen karyawan yang khawatir apabila telepon atau mobil mereka rusak.

Riset ini juga menunjukkan para pekerja independen ini lebih gelisah tentah kebutuhan uang tunai jangka pendek, ketimbang jangka panjang. 63 persen responden sangat khawatir apakah mereka memiliki cukup banyak uang tunai untuk melakukan pekerjaan mereka, dibanding 32 persen yang khawatir tentang akses pendanaan aset.

“Walaupun pekerja independen tengah mengalami krisi ini, kami percaya terdapat peluang yang berarti untuk platform kerja independen dan fintech untuk memenuhi kebutuhan finansial pekerja yang belum terpenuhi, dan membantu likuiditas jangka pendek, perlindungan penghasilan, serta resiliensi jangka panjang," tutur Global Investments Advisor di Flourish Ventures, Smita Aggarwal.

Untuk diketahui, riset ini dilakukan Flourish Ventures yang bermitra dengan perusahaan riset 60 Decibels dan startup untuk pekerja independen. Adapun survei online ini dilakukan terhadap 586 pekerja indenpenden pada Juni 2020.

(Dam/Why)