Sukses

Pemerintah Jepang Persiapkan Siswa Mereka Sambut Society 5.0

Liputan6.com, Jakarta - Dalam waktu dekat ini, siswa Jepang mungkin akan mengucapkan selamat tinggal pada nilai dan mata pelajaran konvensional.

Saat ini, siswa di Jepang sedang disiapkan untuk lebih fokus pada keterampilan mereka untuk mendapatkan hasil maksimal dari teknologi.

Dilansir dari Global Japan World, Selasa (18/2/2020), negara Jepang memiliki visi masa depan untuk mengadopsi Society 5.0.

Mereka ingin menjadikan masyarakat super pintar dan mengerti lebih baik lagi tentang teknologi, termasuk Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), dan robot dalam setiap industri di semua segmen sosial.

"Inti dari Society 5.0 memungkinkan masyarakat bisa memperoleh solusi yang paling sesuai dan cepat untuk memenuhi kebutuhan setiap individu." ucap Shinzo Abe, Perdana Menteri Jepang.

Saat ini Jepang sudah memimpin evolusi besar masyarakat berikutnya, dimana sektor pendidikan negara ditugaskan untuk mempersiapkan para siswa ke Society 5.0 hingga menjadi masyarakat paling maju di dunia.

 

2 dari 3 halaman

Persiapkan Sistem Pendidikan Society 5.0

Hari yang Paling Ditakuti oleh Para Siswa di Jepang (Reuters)

Lebih lanjut, Menteri Pendidikan Jepang, Yoshimasa Hayashi, mengatakan ia sangat berhati-hati mempertimbangkan bagaimana sistem pendidikan dapat memenuhi kebutuhan dan nilai Society 5.0 dari tingkat sekolah hingga universitas.

Hal pertama yang dilakukan adalah membentuk komite mengenai masalah ini, mencakup spesialis bidang-bidang canggih seperti AI.

"Di era Google, orang tidak perlu lagi menghafal setiap fakta. Banyak tugas yang saat ini bisa dilakukan oleh komputer," jelas Hayashi.

"Penekananya harus pada keterampilan manusia seperti komunikasi, kepemimpinan dan daya tahan serta pemahaman keterampilan membaca."

 

3 dari 3 halaman

Perkembangan Kelas Lebih Fleksibel

Hari yang Paling Ditakuti oleh Para Siswa di Jepang (Reuters)

Untuk mewujudkannya, Menteri Pendidikan Jepang memiliki gagasan untuk membuat perkembangan kelas yang lebih fleksibel.

Misalnya, seorang siswa lulus di kelas 5 namun tidak lulus dalam mata pelajaran matematika maka ia bisa mengambil kembali mata pelajaran matematika di kelas selanjutnya hingga ia paham.

Saat ini di Jepang dan mungkin di luar negeri juga siswa yang mengikuti ujian untuk masuk univesitas dibagi menjadi dua kelompok, yaitu mereka yang belajar ilmu humaniora dan ilmu sosial serta mereka yang belajar ilmu matematika.

Di masa depan Hayashi ingin melihat sistem pendidikan di mana mata pelajaran seperti matematika, ilmu data, dan pemograman adalah syarat dasar atau umum seperti filsafat dan bahasa.

"Jika mengambil jurusan fisika, kamu juga harus memperlajar mata pelajaran umum sehingga kamu bisa menggabungkan pengetahuan ilmiah dengan etika bersamaan di masa depan." ucap Hayashi.

(Fitriah Nurul/Ysl)

Loading