Sukses

Apa Kabar Callind? Aplikasi Pesan Pesaing WhatsApp Buatan Anak Bangsa

Liputan6.com, Kebumen - Dua tahun lalu, Callind, aplikasi media sosial semacam WhatsApp lahir dan bikin heboh. Hanya dalam jangka beberapa bulan, 100 ribu lebih orang menggunakan aplikasi ini.

Callind merupakan kependekan dari Calling Indonesia. Fitur yang tersedia sejenis dengan aplikasi pesan yang lebih dulu populer, WhatsApp. Tetapi, startup ini diklaim lebih lengkap dan yang jelas, asli bikinan anak negeri.

Ya, pengembang aplikasi Callind adalah seorang gadis Kebumen, Novi Wahyuningsih. Dari tangannya, lahir aplikasi yang digadang-gadang menjadi startup asli dalam negeri yang bisa mendunia.

Dua tahun berlalu, rupanya Callind telah berkembang. Kini, aplikasi pesan Callind telah rebranding atau berganti nama menjadi CakraTalk.

CakraTalk bakal dikembangkan dengan model jaringan koperasi. Bidikan anggota koperasinya adalah anak muda, alias generasi millenial. Koperasinya bernama Wahyu Global Cakrawala.

Chief Sales Officer (CSO) CakraTalk Novie Azthary mengatakan, berbeda dengan kebanyakan koperasi yang hanya berkutat pada simpan pinjam, Koperasi Wahyu Global Cakrawala berinovasi melalui bisnis startup.

Selain aplikasi Callind yang kini rebranding menjadi CakraTalk, juga ada Kondangin, Belajar Holic, Mediscall, Glowis, BeliPangan, Ayober, dan Mediscall.

CakraTalk merupakan aplikasi chatting atau aplikasi pesan. Sementara Kondangin adalah versi youtube-nya Indonesia dan band-band Indonesia.

Kemudian BelajarHolic merupakan aplikasi penyedia kurikulum pendidikan dan Mediscall merupakan aplikasi kesehatan.

 

2 dari 3 halaman

Koperasi Millenial untuk Pengembangan Cakra Talk

Lalu, Glowis atau Global Wisata merupakan aplikasi terkait dengan lokasi wisata. Selanjutnya, aplikasi BeliPangan berguna untuk pengembangan usaha masyarakat. Sedangkan AyoBER merupakan aplikasi untuk berbagi bersama.

“Siapa pun yang bergabung dengan koperasi milenial tersebut tentunya bisa untung bersama,” ucap Novie, dalam keteranganya, Kamis (8/8/2019).  

Pada tahap awal pengembangan aplikasi ini, manajemen koperasi membatasi 100 ribu anggota. Caranya dengan menabung Rp 550 ribu. Calon anggota juga harus memiliki tabungan di Koperasi Wahyu Global Cakrawala dan disimpan setidaknya selama dua tahun.

“Otomatis terdaftar sebagai anggota di Yayasan Ayober Cakrawala,” ucapnya.

Novie mengklaim, dengan tabungan tersebut, seorang anggota koperasi berpotensi mendapat penghasilan puluhan juta rupiah, dalam jangka dua sampai tiga tahun ke depan.

Anggota yang memiliki tabungan itu otomatis mendapatkan bagi hasil keuntungan di tujuh aplikasi tersebut. Koperasi Wahyu Global Cakrawala memiliki 10 persen share atau bagian saham di masing-masing aplikasi.

Jika tahap awal ada 100 ribu member, maka dari 10 persen yang ada di koperasi itu dibagikan untuk 100.000 anggota koperasi. Dengan itu, masing-masing member mendapatkan sekitar 0.0001 persen.

“Tampaknya kecil memang, namun perhitungan itu baru satu startup yang berhasil. Taruhlah CakraTalk yang sebelumnya bernama Callind, hanya dalam waktu lima bulan terdapat hampir mencapai satu juta pengguna,” dia mengklaim.

 

3 dari 3 halaman

Target 20 Juta Pengguna dalam 2 Tahun

Untuk menjadi startup sukses, dalam dua tahun CakraTalk mesti digunakan oleh 20 juta pengguna, meski tak menutup kemungkinan bisa mencapai 50 juta bahkan 100 juta pengguna atau lebih.

Menurut Novie, keuntungan pertama dari sebuah startup saat aplikasinya banyak digunakan oleh masyarakat. Semakin tinggi pengguna aplikasi, maka nilai startup tersebut akan semakin tinggi.

Dia mencontohkan, aplikasi WhatsApp, dibeli Rp 274 triliun atau Lazada yang mendapat investasi hingga Rp 13 triliun saat pengguna aplikasinya mencapai 20 jutaan.

Ada pula salah satu startup yang diakuisisi senilai Rp 13 triliun dengan melepas saham 80 persen berserta database pengguna kurang lebih 20 jutaan.

Keuntungan lain dari menjadi anggota koperasi ini yakni bahwa tidak semua dana yang diperoleh digunakan untuk startup. Prosentase penggunaan untuk pengembangan startup hanya 25 persen. Lainnya, sebanyak 25 persen untuk properti dan 50 persen disimpan sebagai cadangan.

“Ketika satu member menabung Rp 550 ribu maka dengan jumlah 100 ribu member akan mencapai Rp 50 miliar. Sedangkan dari Rp 50 miliar itu sudah ada 10 persen saham di tujuh startup. Kalau satu startup berhasil dan diakusisi valuasi perusahaan menjadi Rp 13 triliun,” dia menerangkan.

Perhitungan itu baru dari startup. Keuntungan akan lebih tinggi jika tujuh startup sama-sama berkembang dengan baik.

Selain keuntungan berlipat, anggota koperasi dan yayasan itu juga memiliki akses ke Kartu Cakra atau CakraPay. Kartu member tersebut bisa digunakan untuk kartu pembayaran.

“Anggota koperasi dan yayasan pun memiliki kesempatan untuk belajar terkait pengembangan diri serta lainnya dari orang-orang hebat dan menambah networks yang luas,” Novie melanjutkan.

Pencipta dan pengembang CakraTalk, Novi Wahyuningsih mengatakan, pendirian koperasi untuk pengembangan CakraTalk dan aplikasi lainnya itu bukan semata-mata demi meraup uang. Lebih jauh lagi, koperasi adalah semangat ekonomi kerakyatan.

"Koperasi itu membangun ekonomi kerakyatan. Dengan koperasi kita juga bisa belajar berbagi," ucap Novi.

(Muhamad Ridlo/Isk)