Sukses

Pola Jam Kerja 996 di Industri Teknologi Tiongkok

Liputan6.com, Jakarta - Setelah sebelumnya dikritik akibat dituduh seksis, sekarang industri teknologi Tiongkok kembali jadi sorotan karena dituding diskriminatif pada calon pegawai berusia di atas 30 tahun.

Dilansir Bloomberg, Jumat (4/5/2018), cepatnya kesuksesan perusahaan teknologi Tiongkok cenderung "mengorbankan" tenaga manusia demi lebih maju dari rival luar negeri. Salah satunya adalah dengan merekrut orang-orang muda.

Bloomberg menyebut perusahaan teknologi Tiongkok memiliki beban kerja "996", yaitu bekerja dari pukul sembilan pagi sampai sembilan malam selama enam hari dalam seminggu.

Pola pekerjaan "996" ditenggarai jadi penyebab orang-orang usia paruh baya tidak terlalu dipandang saat melamar pekerjaan di sektor teknologi. Hal ini tentu juga menguntungkan perusahaan, sebab upah orang-orang muda tergolong lebih murah.

"Kebanyakan orang di usia 30-an sudah menikah dan harus mengurus keluarga, sehingga mereka tidak akan bisa fokus ke pekerjaan intensitas tinggi," ucap Helen He, seorang tech recruiter di Shanghai.

Terbukti, pada situs Zhaopin.com, puluhan ribu pekerjaan hanya dibuka untuk mereka yang usianya 35 tahun ke bawah. Bahkan, latar pendidikan pun bisa jadi nomor dua, sementara usia muda masih lebih diutamakan.

Hukum di Tiongkok hanya melarang diskriminasi atas dasar jenis kelamin, agama, dan disabilititas. Untuk diskriminasi usia di perusahaan teknologi memang tidak dilindungi, tetapi Bloomberg sempat melaporkan tindak diskriminasi seperti terhadap jenis kelamin juga tidak sepenuhnya ditanggapi serius oleh pihak berwajib.

2 dari 2 halaman

Perusahaan Teknologi Tiongkok Dikecam Tampilkan Iklan Seksi

Iklan Alibaba Dianggap Seksis. Dok: Alibaba

Beberapa perusahaan teknologi di Tiongkok memang dituding sering menghadirkan seksisme lewat iklan-iklan produk mereka.

Dilansir Bloomberg, Rabu (25/4/2018), Human Rights Watch (HRW) dalam laporannya menyebut perusahaan teknologi Tiongkok, seperti Alibaba, Baidu, dan Tencent ternyata secara rutin menghadirkan iklan yang mengobjektifikasi perempuan, padahal itu tidak dibolehkan secara hukum.

"Pihak berwajib di Tiongkok jarang menegakkan larangan hukum terhadap diskriminasi dalam ketenagakerjaan dan di periklanan," tulis HRW dalam laporannya.

Ada sejumlah jenis iklan yang seksis. Pertama, adalah konten seksis pada iklan mencari pekerjaan.

Contohnya, di iklan Alibaba muncul wanita-wanita cantik yang mengaku menyukai pria di bidang teknologi untuk menggaet pegawai baru.

"Inilah para dewi di hati karyawan Alibaba. Mereka ingin bekerja bersamamu. Apa kamu juga mau?" tulis sebuah iklan yang menampilkan foto wanita-wanita bergaya sensual.

Jenis iklan lainnya yang dituding seksis adalah yang mengutamakan laki-laki, seperti yang dilakukan Baidu.

Ada juga Tencent yang menampilkan iklan berisi adanya wanita cantik yang bekerja di perusahaan mereka, sehingga karyawannya merasa gembira.

Tidak hanya di perusahaan teknologi, HRW mencatat fenomena iklan kerja seksis serupa terjadi di sektor pemerintahan, serta muncul di iklan-iklan bergaji tinggi dan posisi prestisius, sehingga kesan meremehkan kapasitas pekerja perempuan menjadi semakin kuat. 

(Tom/Ysl)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Loading