Sukses

Tak Perlu Repot BAB, Ada 'Toilet' di Dalam Kostum Astronot NASA

Liputan6.com, California - Astronot di pesawat antariksa NASA generasi terbaru, Orion, akan memiliki kostum dengan teknologi yang canggih dan membuat mereka tak perlu lagi repot buang air besar ke toilet.

Menurut informasi yang dilansir Space, Rabu (14/3/2018), para insinyur di NASA kini sedang mengembangkan kostum luar angkasa baru dengan sistem pembuangan 'limbah' jangka panjang.

Kostum ini akan menawarkan semua fungsi yang diperlukan untuk kehidupan di gravitasi nol, dan dirancang untuk mempertahankan awak astronot dalam keadaan baik-baik saja bahkan hingga kondisi terburuk seperti hilangnya tekanan pesawat.

Sistem pembuangan limbah yang membuat kostum astronot jadi seperti 'toilet berjalan' ini, sebenarnya sudah pernah dikembangkan pada era 1970-an, bahkan telah diterapkan. 

Cara kerja kostum bertoilet ini adalah dimanfaatkannya kantung kotoran, serta 'kondom kateter' bagi yang merupakan opsi paling masuk akal.

Orion sendiri merupakan kendaraan luar angkasa yang mampu membawa awak melampaui orbit Bumi yang rendah. Meski demikian, pesawat ini akan digunakan untuk misi ke bulan karena tak cukup besar untuk misi ke Mars yang bisa memakan waktu hingga 9 bulan.

Orion pun dilengkapi toilet yang sesungguhnya. Namun karena kostum astronot dengan toilet bisa digunakan untuk bertahan selama 6 hari, dalam keadaan darurat toilet tersebut justru tak bisa digunakan.

1 dari 3 halaman

Astronot Bisa Kena Demam Jika Kehilangan Bobot

Masih seputar astronot, studi terbaru mengungkap kalau astronot dapat mengalami demam di luar angkasa. Bahkan demam ini dapat menyerang astronot saat tubuh mereka beristirahat atau sedang tidak melakukan hal apa pun. 

Sebagaimana dikutip dari Science Alert, Rabu (9/1/2017), studi ini mengungkap bagaimana tubuh manusia bereaksi saat berada di luar bumi. Disebutkan bahwa suhu badan manusia dapat memicu demam.

Diketahui, suhu badan manusia tidak akan naik secara instan, melainkan bertahap selama beberapa bulan saat tubuh mereka menyesuaikan dengan kondisi di luar angkasa tanpa gravitasi. Hal ini berdasarkan pemeriksaaan yang dilakukan sebelum dan sesudah perjalanan ke International Space Station (ISS).

Dalam risetnya yang dipublikasikan di Scientific Reports ini, setelah dua setengah bulan, suhu tubuh astronot dapat mencapai 40 derajat celsius selama masa pelatihan di ISS dan turun 1 derajat celsius dari suhu normal menjadi 37 persen, meski astronot tidak melakukan hal apa pun.

"Pada penelitian ini, kami mengembangkan teknologi baru yang menggabungkan sensor suhu di permukaan kulit dengan sensor panas. Sensor ini mampu mengukur perubahan sekecil apa pun pada suhu di pembuluh darah arteri," ungkap perwakilan tim riset, Hanns-Christian Gunga dari Charité Universitätsmedizin Berlin Clinic di Jerman.

Sekadar informasi, penelitian ini merupakan studi mencari tahu dan mempelajari bagaimana manusia mengatasi perjalanan jauh di luar angkasa.

Sejauh ini, sejumlah penelitian yang telah dilakukan, mengungkap bagaimana bobot badan dapat memengaruhi suhu tubuh inti (CBT). Suhu tubuh inti sangat krusial terhadap sistem biologis tubuh manusia. 

 

2 dari 3 halaman

Sensor Ultra Sensitif

Dalam penelitiannya, mereka menguji suhu badan inti (CBT) para astronot dengan menggunakan sensor ultra sensitif. Adapun ada 11 astronot yang diuji saat mereka berada di stasiun luar angkasa dengan masa tinggal 30 hingga 90 hari.

Hasilnya, pada peningkatan suhu tubuh rata-rata, menunjukkan bahwa suhu tubuh inti mereka meningkat lebih cepat dalam kondisi mikrogravitasi ketimbang saat tubuh mereka dalam kondisi gravitasi normal di bumi.

Hal ini mungkin terjadi karena suhu tubuh manusia terganggu dengan kondisi di luar angkasa, termasuk suhu panas yang dikeluarkan tubuh dan jumlah keringat yang dihasilkan pun menjadi dingin.

Alhasil, keringat menjadi menguap lebih lambat di ruang angkasa dan selama sesi latihan di ISS suhu panas tubuh astronot akan berlebih. Hal ini akan memicu masalah pada tubuh.

"Saat kondisi tanpa bobot, tubuh kita merasa sangat sulit untuk menghilangkan kelebihan panas," kata Gunga. "Perpindahan panas antara tubuh dan kondisi sekitar menjadi lebih sulit di situasi seperti ini."

Reporter: Indra Cahya

Sumber: Merdeka.com

(Jek)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Artikel Selanjutnya
5 Teknologi Canggih NASA yang Bisa Bantu Manusia Hidup di Mars
Artikel Selanjutnya
NASA Terbangkan Helikopter untuk Pantau Kondisi Mars