Sukses

Telepon Jadul Milik Hitler Terjual Rp 3,24 Miliar

Liputan6.com, Jakarta - Telepon pribadi milik Adolf Hitler ditemukan di Führerbunker di Berlin. Telepon jadul berwarna merah itu terjual dengan harga Rp 3,24 miliar dalam lelang yang diselenggarakan di Amerika Serikat.

Mengutip laporan BGR, Rabu (22/2/2017), rumah lelang The Alexander Historical Auctions menjual telepon tersebut ke penawar tertinggi dalam lelang yang tak disebutkan namanya. Sebuah media bernama Efe, melaporkan bahwa telepon tersebut disimpan di sebuah tas kerja kulit milik Ranulf Rayner (82) di pedesaan Inggris sejak 1945.

Ia mendapatkan telepon tersebut dari ayahnya, Brigadir Ralph Rayner, yang kemungkinan adalah orang non-Soviet pertama yang masuk ke bunker tersebut.

Di katalog lelang, telepon putar itu dideskripsikan sebagai 'senjata paling merusak sepanjang masa, telepon itu telah mengirim jutaan orang ke kematian.' Adapun pelelangan telepon bersejarah dimulai dari US$ 100 ribu atau Rp 1,33 miliar.

Sebagai informasi, telepon ini dibuat di Bakelite oleh perusahaan Jerman, Siemens. Wakil Presiden rumah lelang Andreas Kornfeld mengatakan, telepon itu kemudian menjadi barang koleksi di Amerika Utara.

"Itu adalah harga yang sangat tinggi. Kami senang," kata Kornfeld.

Hitler diketahui mendapatkan telepon itu dari Angkatan Bersenjata Nazi Wehrmacht dan menggunakannya selama dua tahun saat Perang Dunia II. Mulanya, telepon itu berwarna hitam, kemudian dicat dengan warna merah menyala. Pada bagian belakang telepon, terdapat nama Adolf Hitler yang tertulis di huruf cetak, di samping gambar elang dan lambang Nazi.

Melalui telepon itu, Hitler memberikan berbagai perintah, termasuk perintah terakhirnya sebelum bunuh diri pada 30 April 1945. Setelah tentara Soviet mengambil alih Jerman, Brigadir Rayner diundang untuk masuk ke bunker itu, dan sebagai hadiah, Soviet menawarkan telepon warna hitam yang ada di kamar Eva Braun, istri Hitler. Alih-alih menerimanya, Brigadir Rayner memilih telepon merah yang ada di dekat tempat tidur Hitler.

"Ayah saya tak pernah mengira bahwa telepon ini akan jadi artefak penting," ujar Ranulf Rayner.

(Tin/Why)