Sukses

6 Tips Kreatif Buat Konten Video Menarik ala Google

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia menjadi salah satu negara dimana penduduknya gemar berjejaring sosial. Jelas saja, hadirnya smartphone terjangkau mampu membuat penetrasi smartphone di Tanah Air meroket sampai 43 persen.

Selain itu, aktivitas streaming video pun menjadi kegiatan pokok yang wajib dilakukan orang setiap harinya. Diungkap, jumlah penonton video di YouTube via smartphone melebihi jumlah penonton video YouTube via komputer sekitar 60 persen. Ini artinya, penonton YouTube di Indonesia memang sering mengakses streaming video lewat smartphone ketimbang menonton lewat PC atau laptop.

Bicara soal streaming video di YouTube, pasti Anda tahu bahwa kini situs berbagi video tersebut menghadirkan iklan yang diselipkan di awal, akhir, maupun di tengah video ketika pengguna sedang streaming.

Konten iklan yang hadir di jejaring sosial video ini bisa dibilang tidak biasa. Terdapat makna serta trik yang dilakukan pihak pembuat iklan agar penonton YouTube betah menontonnya sampai akhir.

Veronica Utami, Head of Marketing, Google Indonesia, mengatakan, untuk menciptakan video, ada 6 hal yang harus diperhatikan oleh pembuat iklan jika mereka ingin iklannya mampu meng-attract masyarakat. Apa saja?

1. Format Video Harus Mudah untuk Dibagikan

Veronica mengatakan, salah satu hal yang bisa membuat sebuah video menjadi viral adalah jika video tersebut memiliki sebuah relevansi dengan isu yang sedang ramai dibicarakan di masyarakat.

"Contohnya, baru-baru ini isu yang lagi hangat-hangatnya dibicarakan adalah kemenangan Persib di Piala Presiden atau masalah asap," kata Veronica.

Hal lain yang membuat video menjadi populer adalah jika video tersebut mengandung value sosial masyarakat. Di Indonesia, value tersebut berupa cinta dan kekeluargaan. Veronica menjelaskan, saat ini, masyarakat Indonesia memilih menyukai video yang emosional.

2. Kolaborasi dengan YouTuber

Tips berikutnya adalah bagi Anda yang ingin membuat iklan berupa video tetapi belum punya ide, Veronica menyarankan untuk melakukan kolaborasi dengan YouTuber Indonesia sudah menyandang nama populer.

"Salah satu keuntungan melakukan kolaborasi adalah karena para YouTuber sudah memiliki fanbase dan subscription dengan jumlah besar," tutur Veronica.

Pengiklan harus memilih YouTuber yang tepat dengan memastikan bahwa karakteristik YouTuber sesuai dengan image pengiklan dan penonton YouTuber memang sesuai dengan target pasar pihak pengiklan.

2 dari 3 halaman

Interaksi dengan Penonton

3. Interaksi dengan Penonton

Masyarakat biasanya lebih tertarik pada seseorang daripada brand. Veronica mengungkapkan, saat berinteraksi, pengiklan bisa meminta umpan balik pada penonton berupa komentar.

Terkadang pengiklan bahkan bisa mendorong penonton untuk membuat konten video dan pihak pengiklan akan membuat konten yang merupakan gabungan dari video buatan para penonton.

Namun, umpan balik para penonton kadang bisa jadi positif atau negatif karena tidak selamanya komentar yang diterima bersifat positif, banyak juga komentar yang berupa kritik.

4. Buat Video yang Mudah Dipahami

"Konten video harus mudah dipahami para penonton, apalagi untuk web series," kata Veronica. Ia mengatakan, meski membuat video berseri, setiap video harus dapat ditonton secara terpisah.

"Jangan seperti sinetron yang mana mengharuskan penonton untuk menonton semua episodenya agar bisa mengerti jalan ceritanya," katanya.

3 dari 3 halaman

Konsisten

5. Jadwal Video yang Konsisten

Saat pihak pembuat video disarankan harus memiliki jadwal yang tetap dalam mengunggah video, maka penonton akan memiliki ekspektasi dan menciptakan habbit `menunggu` episode video berikutnya.

6. Cerita Harus Menarik

Dijelaskan Veronica, ketika membuat konten yang menarik, penonton akan menyaksikan video iklan yang ditayangkan dengan sendirinya, walaupun durasi video tersebut cukup panjang. Hal serupa pun dilontarkan oleh Galuh Chandrakirana, Team Leader Marketing LINE Indonesia.

Galuh mengatakan, daripada membuat video iklan pendek dengan durasi 30 atau 60 detik, ia lebih memilih membuat video lebih panjang yang lebih bermakna.

"Meskipun video Line memang merupakan kampanye atau iklan, namun kami kadang memilih membuat video berdurasi panjang, seperti AADC 2014," kata Galuh.

(jek/isk)