Sukses

49% Pengguna Internet Masih Takut Belanja Online

Liputan6.com, Jakarta - Belanja online memang menyenangkan, mudah, dan bahkan produk yang ditawarkan harganya lebih murah dari harga pasaran. Pun demikian, aktivitas ini memiliki risiko yang cukup tinggi.

Menurut sebuah survei yang dilakukan Kaspersky Lab dan B2B International, 49% pengguna internet di seluruh dunia merasa rentan saat berbelanja online atau melakukan transaksi secara online.

Sementara 42% pengguna internet lainnya memanfaatkan sistem pembayaran online lebih sering jika mereka merasa dilindungi dari penipuan cyber. Dengan demikian, penyedia pembayaran online menderita kurangnya kepercayaan dari konsumen. 

Dalam keterangan resmi Kaspersky Lab, Jumat (22/8/2014), survei menunjukkan bahwa 62% dari pengguna takut akan penipuan keuangan di internet dan data menemukan banyak contoh akan kegelisahan konsumen ini.

Misalnya, 40% dari mereka yang melakukan pembayaran online yakin bahwa aplikasi mobile resmi yang ditawarkan oleh perusahaan keuangan membutuhkan perlindungan lebih sebelum mereka benar-benar aman. Selain itu, 37% dari pengguna melaporkan akan mengakhiri operasi keuangan di tengah proses karena mereka tidak yakin tentang keamanan transaksi.

Tingkat perlindungan terhadap penipuan cyber merupakan faktor penting bagi pengguna saat memilih toko online atau operator jasa keuangan. 60% responden mengatakan mereka akan lebih memilih perusahaan yang menawarkan langkah-langkah keamanan tambahan untuk melindungi data keuangan.

Selain itu, 75% dari mereka yang disurvei mengharapkan bank, sistem pembayaran online, dan toko online untuk melindungi komputer serta perangkat mobile mereka dari penipuan keuangan.

Pada saat yang sama, banyak pengguna menyadari bahwa mereka perlu menerapkan langkah-langkah keamanan mereka sendiri di samping perlindungan yang ditawarkan oleh penyedia pembayaran mereka.

Sementara 20% dari pengguna melimpahkan tanggung jawab penuh atas keamanan transaksi keuangan di pihak bank dan 15% percaya bahwa mereka sendiri bertanggung jawab, di mana mayoritas (60%) dari mereka yang disurvei berpikir bahwa baik pengguna dan bank harus bertanggung jawab untuk melindungi informasi.