Sukses

Tak Hanya Jago Mengaji, Santri Tahfiz di Banyuwangi Sukses Kembangkan Bisnis

Liputan6.com, Banyuwangi - Kisah inspiratif datang dari para santri penghafal Alquran di Banyuwangi. Tak hanya mahir mengaji, mereka sukses membangun usaha di bidang ekonomi digital dibawa asuhan M Kholil Arrosyid, putra KH Mohamad Hayatul Ikhsan, Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bengkak Wongsorejo Banyuwangi.

Usaha ekonomi digital yang dirintis Kholil sejak empat tahun lalu itu, kini membuahkan hasil. Dari hasil usaha bersama para santri, mereka meraup omzet hingga ratusan juta rupiah per bulan.

Memanfaatkan konsep digitalisasi, usaha yang digeluti itu kini bisa membuat para santri mandiri. Bahkan mampu memberikan kontribusi untuk masyarakat sekitar.

Kholil menceritakan, usaha di bidang digital tersebut bermula dari usaha jasa sablon kecil-kecilan di pesantren. Saat itu sebagai modal awal, dia merogoh kocek pribadinya.

Mulanya dia hanya mendapatkan pesanan sablon dari keluarga besar pesantren saja. Namun, lama kelamaan hingga empat tahun berjalan, usaha yang dirintis Kholil bersama para santrinya itu makin banyak pesanan.

Karena semakin banyak permintaan pasar, usaha sablon yang awalnya hanya secara manual itu beralih menggunakan metode digital.

"Akhirnya kita ikuti perkembangan pasar juga," kata Kholil, Rabu (7/12/2022).

Setelah usaha sablon berjalan, Kholil kemudian memantapkan diri untuk membuka usaha di bidang lain.

"Karena kami kira masih banyak peluang, akhirnya kami mengembangkan usaha bidang lain, namun dengan konsep digital," terangnya.

Diakuinya, santri berada di garis belakang dalam hal ekonomi karena jarang dipandang.

"Maka itu kami terus dorong agar para santri berada di garis terdepan dengan mendedikasikan dirinya berdaya secara ekonomi," ucapnya.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Santri Berwirausaha Bisa Jadi Sejahtera

Menurut Kholil, berwirausaha dapat menjadi sarana kebersamaan para santri untuk dapat membawa diri menjadi harapan masyarakat yang sejahtera.

"Bagi kami sebuah harapan harus diawali melalui pembangunan ekonomi," ungkapnya.

Dia menjelaskan, konsep wirausaha yang dibangun dengan memberikan edukasi berupa proses pendidikan ekonomi kreatif melalui pelatihan business plan, leadership dan sosio kultural.

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo itu mengaku mendapat konsep tersebut dari ikhtiar saat menjadi mahasiswa.

Di bangku kuliah,  Kholil tidak pernah melewatkan kegiatan sosial, dan kegiatan yang melibatkan banyak orang. Itu yang kemudian mendasari dirinya membuka usaha bidang digital.

"Saat masih kuliah itu akhirnya kepikiran untuk membuat konsep usaha di lingkungan Ponpes kami di Banyuwangi," kata pria lulusan UINSA Surabaya.

Setelah pulang ke Banyuwangi, dan menjadi Pemangku Asrama Tahfidzul Qur'an di Ponpesnya, dia kemudian mulai membangun unit usaha bersama para santri.

"Mereka kami arahkan untuk menjadi para pengusaha yang religius dan berdedikasi ekonomi," ujar aktivis PMII itu.

Amarisan Syahbana, salah satu santri dari Ponpes itu mengaku bersyukur dapat belajar ekonomi digital.

"Dulu belajar di pesantren. Kini bermitra langsung dengan tridipi (digital printing) dan Laukaka Mart dari Miftahul Ulum," ujar Amarisan.

Dirinya saat ini tengah mengembangkan bisnis digital di rumahnya. Dan berhasil membuka lapangan kerja bagi pemuda di lingkungannya.

"Omzet kami sudah lumayan, sekitar Rp 3 jutaan perbulan," ujarnya.

Kini santri Ponpes Miftahul Ulum yang sebagian besar hafiz Alquran itu berhasil mengembangkan empat bidang bisnis usaha. Di antaranya digital printing, minimarket, konveksi dan budidaya lele. Semua menggunakan konsep digitalisasi.

"Mulai produksi, cara perawatan, hingga pemasaran dan lainnya. Kami betul-betul manfaatkan metode digital," terangnya.

3 dari 3 halaman

Omzet Ratusan Juta Per Bulan

Omzet dari hasil usaha para santri ini pun tak main-main, dari puluhan juta hingga ratusan juta rupiah setiap bulannya.

"Alhamdulillah kami bersyukur. Slogan kami para santri 'Muda Adalah Kekuatan'," terangnya.

Gus Kholil juga memberikan kesempatan secara gratis bagi para santri penghafal Al-Qur'an dan anak yatim untuk belajar agama dan belajar membangun ekonomi di Ponpesnya.

"Kita berikan kesempatan bagi siapa saja untuk belajar bersama. Anak yatim, warga kurang mampu maupun Hafidz Al-Qur'an," ujar Gus Kholil.

Tak hanya itu, berbagai kegiatan sosial untuk masyarakat sekitar pondok pesantren juga sering dilakukan.

"Ini sebagai ungkap syukur kami atas apa yang sudah dilakukan bersama. Semoga tambah barokah," tutur Gus Kholil.

Sebagai salah satu pengasuh pesantren, dia berharap konsep yang dibangun bersama ratusan santri itu dapat bermanfaat bagi masyarakat banyak. 

"Harapan kami, ketika nanti para santri lulus dari pondok, mereka bisa membuka lapangan kerja dengan usaha sendiri," ujar Gus Kholil.

Untuk mengasah keilmuannya, saat ini Gus Kholil melanjutkan strata dua (S2) di Universitas Islam Negeri KH. Ahmad Shiddiq Jember (UINKHAS).

"Kami ingin para santri dimanapun berada bisa berdaya. Bukan hanya bidang agama saja, namun juga mandiri secara ekonomi," pungkasnya.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS