Sukses

The S.I.G.I.T.: Band Indie Tetap Jalan Tanpa Mengandalkan Materi

Sejumlah band indie beraliran garage rock asal tanah air memang sudah cukup banyak bertaburan. Akan tetapi, ada sebuah nama yang menarik untuk disimak aksinya, yaitu The S.I.G.I.T. (The Super Insurgent Group of Intemperance Talent).

Band ini dibentuk di Bandung sejak 2002 lalu dan baru saja merilis sebuah album bertajuk Detourn dengan tembang-tembang yang beraliran garage rock. Sebelumnya, band yang terdiri dari Rektivianto Yoewono (vokal, gitar), Farri Icksan Wibisana (gitar), Aditya Bagja Mulyana (bass, vokal), dan Donar Armando Ekana (drum) ini, sudah menelurkan sebuah album bertajuk Visible Idea of Perfection pada 2006.

Beberapa waktu lalu, The S.I.G.I.T. kembali bermain untuk kesekian kalinya di sebuah event bertajuk JakCloth. Aksi mereka mampu membuat para penonton muda bernyanyi dan bergoyang dengan penuh semangat. Tentu saja banyaknya penonton yang hapal dalam menyanyikan lagu-lagu The S.I.G.I.T. menjadi salah satu bukti bahwa musik indie masih diminati oleh anak muda saat ini.

Berangkat dari situlah, maka tim Showbiz Liputan6.com mencoba mengenal The S.I.G.I.T. lebih dekat dengan menghampiri mereka ke belakang panggung. Maka, beberapa pernyataan keren pun terlontar dari mulut Rekti dan Adit.

Saat ditanya pendapat mereka mengenai penggemar musik indie, maka mereka pun menyatakan bahwa pengemar musik indie sangat bagus. Lalu, mereka juga menjelaskan bagaimana pelaku musik indie saat ini. "Untuk pelaku-pelaku independent, mereka tidak tergantung pada kesuksesan materi. Jika dibandingkan dengan band yang berharap ingin sesukses band mayor, kalau gagal, mereka pasti berhenti," ucap Adit.

Lantas, mereka pun memiliki pandangan tersendiri mengenai teman-teman sesama musisi indie. "Dari teman-teman yang saya kenal, mereka semua yang punya band, meski secara finansial tidak bagus, tetapi semuanya tetap berkarya," tutur Rekti

Saat ditanya mengenai tips bagaimana para musisi indie bisa bertahan, Adit pun mengungkapkan, "Mereka semua bersenang-senang, walau kerja, band tetap jalan untuk membeli alat dan membuat musik. Kalau memang hobi, tercurahkannya pasti lebih dalam. Kalau sudah cinta, pasti lebih murni dan lebih betah menjalankannya."

Menjelaskan konsep musik The The S.I.G.I.T., Adit mengungkapkan, "Kita dari dulu malas mengulang sesuatu yang sudah kita buat. Mungkin dicampur antara dangdut atau rock, tak tergantung harus selalu rock juga."

Mengenai keinginan untuk terjun di mayor label, dijelaskan juga oleh Adit, "Inginnya apa yang kita buat yang laku, bukan membuat sesuatu yang sudah laku. Kita nggak mau mengikuti pasar, inginnya membuat pasar."

Selain itu, mereka pun menjelaskan bahwa pasar musik Indonesia itu ibarat pasar swalayan dan pasar tradisonal. Setiap peminatnya memiliki market masing-masing, tergantung apa yang ditawarkan. Mereka juga berniat mengadakan sebuah konser tunggal di Jakarta seperti layaknya yang pernah diadakan di Bandung.

Ketika ditanya seputar tema panggungnya, mereka lebih berfokus pada album baru. Mereka juga mengaku bahwa tema yang ditampilkan saat beraksi tidak ada yang eksplisit. Semua liriknya pun dibawakan secara implisit.

Sehingga, The S.I.G.I.T tidak mengangkat tema khusus di sebuah lagu atau panggung. "Kami nggak mencirikan kata-kata atau lirik yang harafiah. Kami selalu bersifat konotatif agar orang bisa mempelajari lirik dan merasakan atmosfer lagu-lagunya," ujar Rekti.

Akhirnya band yang pernah berkolaborasi dengan Fariz RM ini pun memilik harapannya tersendiri untuk musik Indonesia, khususnya di ranah musik indie. "Jangan bosan dan menyerah agar warna musik di Indonesia nggak concern dan tetap dengan spirit masing-masing agar lebih bervariasi," tutup Adit.

Band yang kabarnya diambil dari nama ayahnya Rekti ini, memiliki fans di Australia dan Amerika Serikat yang diberi nama The Insurgent Army. Mereka juga sukses merilis lima buah EP, dan pernah terlibat kompilasi soundtrack film Catatan Akhir Sekolah serta Radit dan Jani.(Rul)