Dengan Gitar Cangkul Trio Kuda Rilis Debut Album Thrash Blues

Secara tematik, album Trio Kuda berbicara tentang isu sosial, perlawanan, dan daya hidup.

Diterbitkan 12 November 2025, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dari lorong-lorong keras ibu kota, muncul Trio Kuda, unit cadas yang menabrak batas antara kebebasan dan kesederhanaan. Band ini resmi merilis album penuh perdana bertajuk "Thrash Blues" di bawah naungan Blues One Records, menandai babak baru dalam eksplorasi musik ekstrem yang berpijak pada akar.

Trio yang beranggotakan Anov Blues One, Reza Arfandy, dan Sastra Cipta Abyad ini dikenal karena satu hal: menolak tunduk pada rumus industri musik. Mereka membangun dunianya sendiri—keras, jujur, dan tanpa kompromi.

Album Thrash Blues memuat tujuh trek yang memadukan materi lama dan karya baru, antara lain “Welcome,” “Sikat!,” “Killing Zone,” “Stay Alive,” “Satisfaction,”, “Surga Atau Neraka,” dan “Setitik Cahaya”—yang dipilih sebagai fokus trek utama.

Secara tematik, album ini berbicara tentang isu sosial, perlawanan, dan daya hidup. Lewat aransemen yang memadukan blues rock dengan semangat thrash metal klasik, Trio Kuda melahirkan genre silang yang mereka sebut sendiri: Thrash Blues — sebuah bentuk kebebasan musikal yang mentah namun sarat makna.

"Album ini bukan hanya tentang musik, tetapi juga tentang sikap. Trio Kuda menolak tunduk pada standar industri, memilih jalan yang lebih jujur dan yaa, bisa dibilang berani," ucap Reza Arfandy dalam rilis yang diterima Liputan6.com.

 

 

Tiga Kepala, Tanpa Bass, dengan Gitar Cangkul

Trio Kuda tampil dalam format yang tak lazim: tiga pemain tanpa bass. Anov Blues One memainkan gitar satu senar rakitan sendiri yang ia sebut “Gitar Cangkul”, dibuat dari gagang cangkul — simbol akar rumput dan perlawanan terhadap kemewahan.

Sementara Reza Arfandy menggawangi vokal sekaligus memainkan instrumen silang antara gitar ritme dan bass, dan Sastra Abyad mengisi departemen perkusi dengan drum pad sederhana yang bisa dimainkan di mana pun.

P

roses rekaman album ini juga menolak kemapanan. Trio Kuda memanfaatkan perangkat mobile dan berpindah-pindah lokasi untuk merekam lagu-lagu mereka — mengikuti filosofi blues sejati: jujur, spontan, dan tanpa banyak ornamen teknis.

Secara musikal, Trio Kuda berdiri di perbatasan dua dunia: dari sisi blues rock mereka terinspirasi Buddy Guy, Stevie Ray Vaughan, dan The White Stripes; sementara dari ranah metal, spirit Motörhead, Megadeth, dan Anthrax mengalir deras dalam riff-riff mereka.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Hasilnya? Musik yang keras, mentah, tapi tetap berisi — penuh tenaga dan kritik sosial, namun masih menyimpan nuansa kemanusiaan yang hangat.

Halaman
Show All
Tim ShowbizTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan