5 Fakta Menarik The Nightmare Before Christmas yang Bikin Fans Debat sampai Sekarang

Film klasik yang menggabungkan kehangatan Natal dan kegelapan Halloween dalam satu kisah abadi.

Diterbitkan 01 November 2025, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sejak pertama kali rilis pada tahun 1993, film The Nightmare Before Christmas selalu menjadi bahan perdebatan di antara para penggemarnya. Dilansir dari New York Post, film yang digambarkan dengan animasi dan lagu-lagu ini terlihat seperti film Natal yang sesuai dengan namanya, tetapi juga dipenuhi dengan unsur-unsur Halloween. Kombinasi dua suasana ini membuat orang-orang terus berdebat.

Cerita ini mengisahkan Jack Skellington, Raja Labu yang kesepian di Halloween Town yang mulai merasa kehilangan semangat dengan yang terjadi di kota menyeramkan tersebut.

Ketika ia tanpa sengaja menemukan Christmas Town, Jack sangat terkesan dengan warna, cahaya, dan kehangatan yang baru dialami. Ia memutuskan untuk mengambil alih perayaan Natal dengan menculik Santa Claus dan menggantikannya.

Chris Sarandon, Catherine O’Hara, William Hickey, Ken Page, Paul Reubens, Glenn Shadix, dan Ed Ivory pengisi suara karakter-karakter ciptaan Tim Burton yang juga menjadi produser eksekutif film ini.

Kehadiran Jack Skellington dan karakter-karakter menyeramkan yang lain, kota yang berkaitan dengan Halloween, serta lagu-lagu bernuansa gelap membuat banyak penggemar beranggapan bahwa The Nightmare Before Christmas lebih pantas disebut film Halloween.

Namun, bagi sebagian orang berkata suasana liburan yang penuh warna merah dan hijau terasa sangat kuat sepanjang film. Sutradara Henry Selick bahkan menyebut karya ini sebenarnya merupakan film Natal karena inti ceritanya berfokus pada keinginan Jack untuk memahami arti dari perayaan tersebut. Di sisi lain, komposer Danny Elfman juga mengaku bahwa ia masih berada di tim Halloween.

Dilansir dari Mental Fools ada beberapa fakta menarik di balik film ini. Apa saja?

1. Tim Burton Bukan Sutradaranya

Meskipun nama Tim Burton sangat besar di judul film ini, sebenarnya bukan dia yang menyutradarai. Saat produksi film dimulai, Burton masih disibukkan dengan Batman Returns.

Ia kemudian menyerahkan pekerjaan sebagai sutradara kepada Henry Selick, teman lamanya di Disney Animation yang baru saja memulai karirnya di film panjang.

Burton tetap menjadi pemegang ide utama di balik film ini, mulai dari menulis cerita, menciptakan karakter, dan mengawasi keseluruhan tampilan film agar tetap memiliki suasana gelap dan fantasi yang khas darinya. Namun, di belakang layar Selick yang memastikan setiap gerakan boneka Jack dan Sally tampak hidup.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Ide utama film ini muncul dari sesuatu yang sangat sederhana. Burton berbagi cerita bahwa saat masih dia masih kecil dan tinggal di Burbank, California, tempat yang hampir tidak mengalami perubahan musim. Ketika Halloween selesai dan toko-toko mulai mengubah dekorasi untuk Natal, ia merasa aneh tetapi juga terinspirasi oleh gabungan dua suasana itu. Gagasan dua dunia bertabrakan ini terus ada dalam pikirannya selama bertahun-tahun hingga akhirnya berubah menjadi cerita tentang Raja Labu yang ingin menjadi Santa Claus.

Halaman
Show All
Aisyah Ichsani Maulida, Edu KrisnadefaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan