Rainier W Hardjanto Pionir NFT Amal Indonesia Dukung Art and Me Indonesia dengan Kegiatan Berbagi

Rainier W Hardjanto berbagi dan berinvestasi di Art and Me Indonesia sebagai pendiri dan pionir NFT amal pertama Indonesia.

Diperbarui 11 Mei 2022, 12:21 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Seorang Rainier Wardhana Hardjanto (16) alias Rainier W Hardjanto, sejak tiga tahun lalu tersentuh melihat anak-anak tuna rungu, tuna wicara, anak dengan kondisi sindroma down. Namun mereka selalu memperlihatkan wajah gembira dan tulus.

Rainier yang pada saat itu, baru saja memasuki masa remaja, datang ke acara yang diadakan oleh Yayasan ISDI (Ikatan Sindroma Down indonesia) dan POTADS (Persatuan Orang Tua Anak Dengan Down Syndrome). Acara digelar dalam rangka memperingati Hari Down Syndrome Dunia tahum 2019.

Lantas, pemuda yang menjadi pendiri dan pionir NFT amal pertama di Indonesia ini pun menyumbangkan 9 lukisannya di acara bertema Lelang Amal untuk membangun Training Centre kepada anak-anak down syndrome yang diadakan di Plaza Indonesia.

Rainier mengaku sangat terkesan saat berkenalan dengan anak-anak down syndrome yang dibawa oleh orang tua mereka masing-masing.

“Mereka terlihat gembira, tertawa, walaupun tampak beda. Dan orang tua mereka sangat menyayangi mereka,” ujar Rainier dalam pernyataannya di Jakarta, Kamis (5/5/2022).

Membangun Training Center

Saat itu Rainier bersama dengan putri pelukis kawakan Indonesia Kartika Affandi dan Pelukis Jerman Rudolf Schmidt menyumbangkan lukisan untuk membangun “training centre” anak dengan sindroma down pada tanggal 21 Maret 2019.

Tanggal 21 Maret adalah hari sindroma down sedunia dan bagi Rainier adalah suatu kehormatan untuk berbagi karyanya dengan anak anak sindroma down.

Rainier sangat ingin berbagi kepada anak sindroma down karena bagi Rainier semua anak mempunyai hak untuk memiliki masa depan yang cerah dan setiap anak punya keunikan tersendiri yang sangat spesial.

Banyak orang yang masih berpikir bahwa anak dengan sindroma down adalah beban masyarakat dan harus diaborsi, tetapi pemikiran yang buruk seperti ini harus dihentikan dengan kampanye yang baik dari kita semua yang terus mencintai anak disabilitas ini.

 

Membangun Awareness

Berangkat dari sinilah “Art and Me Indonesia” dibentuk pada tahun 2020 sebagai platform “www.artnme.com” yang bertujuan menggalang awareness terhadap para anak penyandang cacat dan anak panti asuhan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

“Mereka punya bakat terpendam, walaupun skill yang dimiliki tidak sama dengan kita. Lebih tepat jika kita menyebut mereka itu memiliki different ability bukan disability,” ungkap siswa Sekolah British School Jakarta ini. Setelah banyak berteman dan bermain dengan mereka, Rainier menemukan tak sedikit dari mereka yang memiliki talenta dan potensi, seperti menari, main golf, bermain musik atau melukis. Beberapa hasil lukisan mereka diproduksi oleh tim “Art and Me Indonesia” menjadi sebuah tas, tshirt, tumbler, scarf, pouch dan lain-lain. Merchandise ini dijual dan seluruh keuntungannya digunakan untuk mensupport keluarga dengan anak disable bekerjasama dengan YPAC, ISDI, beberapa Sekolah Luar Biasa (SLB) dan panti asuhan. “Kami ingin bakat dan karya mereka dihargai dan dapat dinikmati masyarakat lebih luas,” tegas Rainier. Dia menjelaskan “Art and Me Indonesia” dibangun dengan komitmen tinggi agar semua berjalan secara sustainable. “Saya tidak mau hit and run saja. Hanya sekali terus berhenti. Saya ingin gerakan ini terus berlangsung, sekali pun saya akan sibuk saat melanjutkan kuliah nantinya," tutur Rainier.

Halaman
Show All
Ruly Riantrisnanto, Aditia SaputraTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan