Sukses

Naif Band Bubar Setelah 25 Tahun Berkarier, Ini 6 Hit Besar Mereka

Liputan6.com, Jakarta Band Naif bubar. Kabar ini membuat pencinta musik Indonesia syok karena band yang diperkuat Emil (bas), David Bayu (vokal), Jarwo (gitar), dan Pepeng (drum) punya riwayat karier yang tak sebentar.

Debut pada 1998 lewat album self titled bersama perusahaan rekaman Bulettin Record, Naif hingga kini mencetak belasan hit besar. Bubarnya Naif ramai dibahas warganet sepanjang Senin (10/5/2021).

Sang vokalis, David Bayu, membenarkan perjalanan Naif sebagai sebuah band telah usai. Laporan khas Showbiz Liputan6.com kali ini merangkai 6 hit besar Naif band. Tak mudah memilih 6 di antara belasan. Semoga berkenan.

2 dari 7 halaman

1. Mobil Balap

Di tengah dominasi “Menghitung Hari” (KD) dan “Inikah Cinta” (ME), sekumpulan pria atas nama Naif membawa virus rok alternatif dengan nuansa retro pekat plus lirik suka-suka. Lupakan getirnya ditinggal kekasih atau cinta yang berbunga-bunga.

Band ini dengan asyik pamer “Mobil Balap” lewat lirik: Asoy Geboy ngebut dijalanan ibukota, dipayungi lampu kota disekitar kita. Meski kita tahu sama tahu, aksi pamer ini berakhir tragis. Mobilnya menabrak pohon, SIM dan STNK ditarik aparat.

 

3 dari 7 halaman

2. Posesif

Saat Dewa menawarkan “Roman Picisan” dan Sheila on 7 pamer kekasih gelap bernama “Sephia,” Naif melawan arus lewat kisah cinta “Posesif” yang dilandasi aturan: Bila kumati, kau juga mati, walau tak ada cinta sehidup semati.

Nomor ini meledak dipasar berkat bantuan videoklip yang provokatif di eranya. Tepat saat David melantun “mengapa kubegini, jangan kau pertanyakan,” kita melihat waria bernama Jean Stavia yang kemudian dikenal sebagai Avi “Naif” beroperasi di pinggir jalan.

Video musik “Posesif” yang menghebohkan dinobatkan jadi Video Klip Terbaik di ajang Video Musik Indonesia. Avi yang kini telah meninggal menerima Piala Visia kategori Model Video Klip Terbaik. Woohoo!

 

4 dari 7 halaman

3. Aku Rela

Perselingkuhan tak harus disampaikan dari aspek korban dengan lirik menyayat atau dilantun pelaku tanpa rasa bersalah. “Aku Rela” bentuk perselingkuhan yang santai tapi bukan berarti tak punya hati. Akhirnya, karma membalik keadaan. Pelaku lalu korban.

Itu tergambar jelas dalam lirik bernada gugatan yang dibawakan David: Tidakkah cukup bagimu semua pengorbananku? Dan aku rela meninggalkan pacarku, demi tuk dapatkan kau kekasihku…

 

5 dari 7 halaman

4. Benci Untuk Mencinta

Mungkin benar kata pepatah. Sekat pembatas antara benci dan cinta itu setebal kulit bawang. Saking tipis dan transparan, sampai tak terlihat. “Benci Untuk Mencinta” tampaknya ditulis dengan prinsip yang sama.

Vokal David yang karismatik didukung aransemen epik membuat galau ala Naif tak terasa menye-menye. Ini soal rasa yang sulit diterjemahkan. Tak tahu apa yang terjadi. Benci untuk mencinta. Atau cinta untuk membenci?

 

6 dari 7 halaman

5. Air dan Api

Salah satu alasan yang membuat karier Naif langgeng hingga seperempat abad bisa jadi kegeniusan mengutak-atik tema cinta hingga melahirkan lagu plus lirik dengan perspektif lebih berwarna.

“Air dan Api” membahas asal konflik dua insan dengan memetakan sejumlah kemungkinan (tanpa menyudutkan pihak lain). Salah satunya, ataukah kita belum mencoba memberi waktu pada logika?

 

7 dari 7 halaman

6. Di Mana Aku Di Sini

Yang paling menyakitkan dari sebuah hubungan, keberadaan kita tak dianggap oleh yang kita cintai. Entah bertepuk sebelah tangan atau cinta itu pudar di tengah jalan. Perihnya patah hati dibingkai dengan vokal David yang empuk plus aransemen yang berpijak pada akar Naif mula-mula.

Durasi lagu hampir lima menit tak terasa melelahkan berkat penjiwaan tingkat tinggi David. “Racun” lagu ini menurut kami, ada di bagian: Kuhanya ingin dekatmu, namun kau selalu meniadakan aku. Duh, benar-benar bikin hati lumpuh!