Sukses

SHOWBIZ UNCENSORED: Aku Depresi karena Diputus Vokalis Band Terkenal (Bagian 1)

Liputan6.com, Jakarta Ini tentang aku dan Aidan.

“Oh, jadi ini semua salah aku ya, Dan?” ucapku dengan suara bergetar. Tak dinyana, Aidan yang sangat kucintai, mengundangku ke sebuah lounge mewah di jantung kota Jakarta, bukan untuk menyampaikan kabar bahagia. Melainkan berita buruk. Semangatku dalam hitungan detik ambruk.

“Bukan, ini bukan salahmu, Lin. Enggak ada yang salah di sini,” sahut Aidan, yang hari itu tampak berkarisma mengenakan kemeja hitam lengan panjang, celana jin biru belel, makin ganteng dengan potongan rambut under-cut klimis. 

Kami membisu beberapa detik. Aku, Lintang, pesinetron kondang yang diidolakan banyak orang, kala itu tak dapat menyembunyikan rasa kecewa. Mataku mendadak terasa berat karena membendung butiran bening yang mengendap di kedua ujungnya. Kucoba mengatur napas agar tak tampak megap-megap.

Malam itu, Aidan seperti tanpa beban. Beberapa kali, ia mereguk lime squash dan melumat beberapa ruas kentang goreng yang dipesan dari sejak duduk satu jam lalu. Setelah mengatur napas, perlahan kuberanikan diri menanyakan alasan Aidan memutuskanku.

2 dari 9 halaman

Beda Prinsip

“Kita baru jalan empat bulan. Kenapa harus berakhir sih, Dan? tanyaku dengan suara lirih.

“Kita beda prinsip. Kamu sadar enggak, sih?” jawabnya kemudian menenggak minuman hingga tak bersisa.

“Prinsip yang mana?”

“Sudahlah. Kenapa, sih harus dibahas sedetail ini? Enggak ada gunanya lo bikin drama setelah semua ini berakhir, ya kan?”

“Oh gue tahu. Prinsip bahwa gue enggak mau diajak 'berhubungan' sebelum resmi menikah, kan?”

3 dari 9 halaman

Jatuh Hati

Saat itu Aidan terdiam. Untuk mengalihkan perhatian ia kembali memesan minuman yang sama kepada pramusaji. Suasana hening kembali.

Aidan, vokalis band Spektra yang dikenal sangat komunikatif dengan audiens, itu mendadak tak punya kemampuan merangkai barang dua atau tiga kata.

Jangankan menjawab, ia malah asyik mengamati layar ponsel yang beberapa kali menyajikan notifikasi percakapan baru di WhatsApp. Sesekali ia tersenyum membaca notifikasi itu.

Senyum yang membuatku dan puluhan seleb lain jatuh hati padanya.

4 dari 9 halaman

Punya Kuping

Dua menit setelah pramusaji meletakkan lime squash yang baru lalu silam dari ruang privat kami, aku melempar sebuah dugaan.

“Beberapa kali kita liburan. Terakhir lo ngajak gue ke Phi Phi Island, menginap di Patong, Thailand. Lo ngajak gue begituan dan tetap gue tolak. Sejak itu komunikasi kita renggang. Lo enggak sehangat dulu. Mungkin ini yang lo maksud prinsip. Prinsip kotor,” aku memulai obrolan.

“Lin, bisa enggak topiknya berhenti sampai di sini? Kalau enggak bisa, minimal pelanin suara lo. Ini ruang privat tapi tembok bisa punya kuping.”

5 dari 9 halaman

Gue Muak

“Aidan, lo lebih tua 11 tahun dari gue. Gue enggak nyangka lo mutusin gue untuk alasan sedangkal ini!”

“Lintang, kecilin suara lo!” sahut Aidan setengah membentak. 

“Kenapa, lo takut ketahuan penjahat wanita?”

“Heh! Kalau lo enggak mau diajak have fun itu hak lo, tapi hargai gaya pacaran gue. Kalau gaya pacaran kita beda, ya sudah. Dari awal kita datang ke sini, gue udah bilang ini bukan salah lo. Juga bukan salah gue. Kecuali bokap lo yang overprotective. Selalu menelepon tiap kali kita kencan atau liburan!”

“Setop Aidan. Gue muak!”

6 dari 9 halaman

Pelit

Pembicaraan selesai. Aku meninggalkan beberapa lembar uang seratus ribuan di meja makan lalu beranjak ke arah pintu. Beberapa saat sebelum jemariku meraih daun pintu dan menggesernya ke kanan, Aidan menyusul.

Ia hendak mengembalikan uang yang kutaruh di meja makan. “Enggak. Nanti lo bilang lagi sama media bahwa selain naif karena enggak mau diajak have fun, Lintang itu pelit karena enggak pernah keluar duit kalau diajak kencan,” kataku sembari membuang uang itu ke lantai.

Aku menggeser pintu. Keluar, seraya melempar senyum palsu ke dua staf restoran yang bediri beberapa meter dari pintu.

7 dari 9 halaman

Di Jok Belakang

Dadaku terasa panas dan sesak. Aku berjalan ke area parkir mobil meski kaki terasa mengambang. Pak Kresna, supir pribadiku, yang melihat dari kejauhan segera menyalakan mesin mobil dan merapat padaku.

Aku masuk ke dalam mobil, membanting tubuh di jok belakang. Berkali-kali aku menarik napas sambil memejamkan mata. Aku mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.

Dalam perjalanan pulang, berkali-kali pula aku menyiapkan mental bahwa mulai malam ini, tak ada lagi telepon dari Aidan mengucapkan selamat malam.

Dan besok, tak ada ucapan: “Sugeng morning, My Lin” dari Aidan di WhatsApp.

8 dari 9 halaman

100 Episode

“Mbak Lintang, besok callingan syuting di Kebagusan jam 8 pagi, kan ya?” tegur Pak Kresna.

“Besok Minggu kali, Pak. Jangan merusak suasana, deh,” cetusku ketus.

“Maaf Mbak Lintang, soalnya tadi manajer Mbak, si Mas Faiz, menghubungi saya. Mas Faiz mengingatkan supaya besok jam 6 pagi Mbak Lintang sudah bangun. Dan seingat saya besok Senin lo, Mbak. Besok genap 100 episode sinetronnya Mbak. Ada syukuran di lokasi syuting juga, kan?

9 dari 9 halaman

Bangga Banget

Seketika mataku terbelalak. Kubongkar isi clutch bag-ku untuk mencari ponsel. Ada 5 missed call, 5 pesan WhatsApp, dan SMS dari Faiz.

Dan benar, besok tanggal 25. Sinetron Kasih Untuk Selasih yang kubintangi genap 100 episode. Akan ada syukuran di lokasi syuting.

Karenanya syuting dimulai lebih pagi dan diharapkan selesai lebih awal. Semua pemain dan kru diminta hadir untuk merayakan pencapaian ini.

Ya, ini kali pertama aku menjadi pemeran utama di sinetron harian. Bangga banget, bisa mencapai 100 episode.

(Bersambung)

Anjali L

 

Disclaimer: 

Kisah dalam cerita ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan jalan cerita, tokoh dan tempat kejadian itu hanya kebetulan. Seluruh karya ini dilindungi oleh hak cipta di bawah publikasi Liputan6.com.

Loading
Artikel Selanjutnya
SHOWBIZ UNCENSORED: Pacarku Ternyata Tidak Menyukai Wanita (Bagian 4)
Artikel Selanjutnya
SHOWBIZ UNCENSORED: Pacarku Ternyata Tidak Menyukai Wanita (Bagian 3)