Untuk Angeline, Agar Tak Ada Lagi Korban Berikutnya

Untuk Angeline relatif setia dengan kronologi kematian Angeline yang diketahui masyarakat.

Diterbitkan 23 Juli 2016, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Namun, dibanding menonjolkan siksaan secara fisik, Untuk Angeline lebih memperlihatkan siksaan batin yang dialami Angeline. Seperti saat Angeline diminta guru sekolahnya untuk membuat karangan tentang kasih sayang seorang ibu, satu hal yang tak bisa ditulis Angeline.

Atau teror mental yang menghantuinya sampai ke luar rumah, yang bahkan membuatnya ragu untuk menerima secuil roti dari teman sekolahnya.

Memang, adegan penyiksaan masih muncul dalam Untuk Angeline. Namun, bagian ini lebih banyak disamarkan, dan sangat jarang ditampilkan secara frontal.

Untuk Angeline (YouTube)

Langkah ini, memang tak memberikan efek kejut sebesar bila adegan ini ditampilkan secara langsung. Namun sepertinya, penonton memang tak diajak untuk ikut merasakan kesakitan Angeline secara fisik.

Sebaliknya, Untuk Angeline membuat kasus mengerikan ini sebagai sebuah pengalaman menonton yang menarik-narik sisi emosional penonton. Apalagi tak hanya sudut pandang Angeline yang dieksplorasi dalam film ini, namun juga perspektif Samidah sebagai seorang ibu.

Audrey sebagai Angeline kecil dan Naomi Ivo yang berperan sebagai Angeline besar, bermain dengan baik. Naomi Ivo misalnya, sudah mampu menampilkan emosi lewat ekspresi wajah. Bahkan untuk beberapa dialog yang terasa sedikit kaku, keduanya pun mampu melakoninya dengan baik.

Untuk Angeline (YouTube)

Kemunculan Untuk Angeline, meski sempat diiringi pro kontra di masyarakat, setidaknya menjadi pengingat. Bahwa bisa saja ada anak seperti Angeline yang saat ini tengah menahan siksa fisik dan batin. Dan siapa pun, mengemban tugas yang sama agar tak ada Angeline kedua di sekitar kita.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Aditia SaputraTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan