REVIEW Secret in Their Eyes, Dilema Moral Usai 9/11

Yang disorot film ini, Secret in Their Eyes satu segi yang rasanya luput terekspos dari dilema kehidupan pasca tragedi 9/11.

Diterbitkan 22 November 2015, 12:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta "Remember September 10, 2001?" demikian Nancy Gibbs mengawali tulisannya di majalah Time saat memperingati 10 tahun tragedi serangan teroris 11 September 2001 atau kini oleh orang Amerika biasa disebut 9/11 (nine/eleven).

Ia kemudian melanjutkan, di tanggal itu berita yang ramai antara lain Israel dan Palestina tengah bersiap berunding serta tingkat pengangguran di AS mencapai 4,9 persen, tertinggi dalam empat tahun.

Yang hendak ia bilang, kehidupan berjalan seperti biasa di hari itu. Esok paginya, orang Amerika terbangun mengira hari mereka bakal berlangsung biasa-biasa saja pula. Tidak ada yang istimewa seperti hari sebelumnya.

Namun, 11 September 2001 bukan hari biasa. Empat pesawat dibajak. Dua ditabrakkan ke menara kembar World Trade Center (WTC), satu ke Pentagon, markas besar pertahanan AS, dan satu lagi—yang diduga menuju Gedung Puth atau gedung Kongres—jatuh di sebuah tanah lapang. Hari itu 2.975 nyawa melayang.

Wajah dunia seketika berubah hari itu.

Sudah banyak film yang mengupas seperti apa wajah Amerika dan dunia pasca-9/11. Yang paling anyar bisa Anda saksikan di film Secret in Their Eyes.

>Adegan film Secret in Their Eyes. (dok. Feat Pictures)

Film ini dibuka di masa kini, empat belas tahun setelah peristiwa 9/11. Kita melihat mantan agen FBI, Ray (Chiwetel Ejiofor) kembali ke kantor lamanya. Wajahnya kusut. Ia tampak lebih tua dari usia sebenarnya. Jenggot lebat di wajahnya yang sedikit sedikit ditumbuhi uban kian menekankan, ia memendam depresi demikian lama. Pun dua kawan yang ditemuinya hari itu di bekas kantornya: Claire (Nicole Kidman) dan Jess (Julia Roberts).

Di balik penampilannya yang anggun, Claire juga memendam beban pikiran. Apalagi Jess. Wajahnya tampak lelah. Jangankan ada riasan, rambutnya pun seperti ia biarkan tak terurus. Tiga orang ini memiliki trauma yang sama, yang telah mengubah diri mereka selamanya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Baca Juga Julia Roberts Tuntut Keadilan di Trailer Secret In Their Eyes Kolaborasi Aktris Peraih Oscar di Secret In Their Eyes Film lalu mengajak kita pada sebuah kejadian yang berlangsung tahun 2002, tak lama setelah peristiwa 9/11 terjadi. Ray dan Jess adalah agen FBI yang punya karier cemerlang di Los Angeles. Mereka bekerja di bagian kontra-terorisme. Pekerjaan utama mereka, menyelidik agar 9/11 tak lagi terulang. Sedangkan Claire, penyidik kejaksaan yang bekerja sebagai mitra Ray dan Jess. Syahdan, suatu hari panggilan tugas datang. Telah ditemukan sesosok mayat gadis kulit putih di tempat sampah sebuah masjid di Los Angeles. Gugus tugas anti-terorisme FBI tentu datang menyelidik TKP. Betapa terkejutnya Ray ketika mendapati gadis yang tewas dibunuh setelah sebelumnya diperkosa itu adalah putri Jess. Pilu rasanya melihat Jess meraung menangisi putrinya di tempat sampah. Penyelidikan lalu menggiring pada seorang tersangka utama: Marzin (Joe Cole). Pria kulit putih ini merupakan pegawai di masjid. Meski punya pacar, Marzin seorang penyendiri yang tampak punya hasrat liar dan brutal terpendam. Ia menggambar komik tentang membunuh dan memerkosa seorang gadis. Masalahnya kemudian, Marzin juga sosok yang dianggap sangat berguna saat itu bagi FBI. Ia informan yang ditanam FBI di masjid dengan tugas memata-matai aktivitas terduga teroris. FBI dan kejaksaan tak bisa membiarkan operasi mereka berantakan lantaran Marzin kena kasus hukum, bahkan bila itu menyangkut membunuh putri seorang agen FBI sekalipun. Seorang Muslim lalu dijadikan kambing hitam. Marzin lolos.

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Sylvia Puput PandansariTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan